Ingin Tukik Jantan Tinggal Klik, Bisa Dipantau via Android

Ide Ir Sukandar MP untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2015 itu kini telah berbiak. Kreasi mesin penetasan telur penyu tersebut tersebar di berbagai daerah konservasi penyu. Karena dari awal tak berpikir tentang memperoleh keuntungan, semuanya diniati untuk dunia pendidikan.

SANDRA DESI CAESARIA

Dari luar, ruang Tempat Uji Kompetensi (TUK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) seperti ruangan kelas pada umumnya. Selain banyak terdapat buku yang tersusun di rak lemari, hingga beberapa meja kerja yang ditinggal penghuninya. Yang agak berbeda adalah hadirnya beberapa boks kayu berjejer yang bagian dalamnya terlihat dilengkapi lampu.

”Jadi, boks berjejer ini namanya Maticgator. Ini alat penetas penyu dan di sini produksinya,” ujar Vian Dedi Pratama, salah satu mahasiswa pascasarjana yang menyambut wartawan ini. Alat itu sebenarnya dibuat untuk keperluan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) lima tahun lalu.

Salah satu anggotanya, ya Vian sendiri. Saat ini Vian menjabat kesekretariatan Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Maticgator UB. Tugasnya membantu sang direktur yang tak lain  adalah Ir Sukandar MP sendiri.

Sembari menunggu Sukandar selesai mengajar, Vian lantas menjelaskan alat tersebut sudah cukup banyak dipesan pembeli dari berbagai daerah. ”Dan ini kami jual dalam empat versi sesuai kapasitas telur yang bisa muat dalam boks,” kata dia.

Boks paling kecil bisa menampung 50 telur penyu yang bisa dierami melalui inkubator buatan ini. Boks terbesar memiliki daya tampung hingga 150 butir telur penyu. Harga yang disediakan Rp 5 juta–15 juta.

Meski tak ada telur penyu yang dierami di ruangan itu, Vian mencoba menggambarkan bagaimana mesin penetas ini bekerja. ”Caranya mudah, dalam boks ini ada satu kotak kayu yang terdiri dari beberapa sekat kayu. Telur disusun secara vertikal. Tapi, dasar boks kayu harus diisi pasir pantai hingga kedalaman 20 sentimeter,” ujarnya.

Lalu, sekitar 2–3 telur penyu disusun, lantas bagian atasnya ditumpuk lagi dengan pasir. Per satu sekat di dalam kotak kayu bisa menampung hingga 10 telur penyu. ”Bergantung jenis penyunya juga,” terangnya.

Paling besar menurutnya, telur penyu belimbing yang diameternya sekepalan tangan orang dewasa. Jadi, dalam satu sekat kotak hanya bisa terisi 1–2 telur saja dari jenis penyu belimbing.

Setelah disusun, alat dinyalakan dan bisa mengatur jenis kelamin dari telur penyu. ”Ada tombolnya, mau tombol tukik jantan atau betina,” jelas Vian. Jika menginginkan jenis jantan, maka suhu diturunkan, sebaliknya untuk menghasilkan penyu betina maka dengan menaikkan temperatur suhu. Batas minimal suhu yang digunakan mulai dari 25oC–32oC.

Tak terlalu lama, Sukandar masuk ruangan dan mulai menceritakan tentang alat ini. Secara teknis, Sukandar mengatakan idenya berawal pembinaan masyarakat untuk peduli kelangsungan hidup penyu.

”Lalu pada perjalanannya, alat ini menjadi kebutuhan. Mengapa? Global warming ini malah menjadikan telur penyu yang menetas jadinya kebanyakan jenis betina,” kata dia.

Suhu bumi yang naik membuat temperatur dari pasir sendiri mencapai 31 derajat Celsius. Semakin panas suhunya, kemungkinan telur yang menetas di pasir pantai adalah betina. Kalau menetas lebih dari 60 hari dipastikan jantan. Sekitar 50-an hari atau di bawah 60 hari pastilah betina. Ini cara termudah melihat jenis kelamin tukik yang baru lahir.

”Jumlah penyu jantan dan betina yang tidak seimbang mengakibatkan tidak sempurnanya pembuahan. Padahal, banyak dari telur-telur yang gagal menjadi penyu karena beberapa faktor,” tambahnya. Seperti membusuk atau diburu.

Ditambah dengan ketidakseimbangan persentase jenis kelamin akan mengakibatkan semakin berkurangnya pembuahan yang berpengaruh terhadap banyaknya telur yang dihasilkan. Makanya alat ini diciptakan. Tapi Cak Kandar–begitu orang memanggilnya– mengatakan, alat ini masih lebih terasa alami dari penetas telur ayam.

”Tidak seratus persen seperti penetas ayam yang telur dipindah, dierami buatan. Kami masih ada alaminya. Ada media pasir untuk pengeraman,” katanya. Dia mengakui dari segi konservasi alam, ada campur tangan manusia yang besar. Tapi, jika dibiarkan, maka berbahaya.

Meski saat ini alatnya sudah berada di beberapa daerah di Jawa Timur seperti Trenggalek, Banyuwangi, hingga di pantai Bajul Mati di Kabupaten Malang. Dia mengatakan, dari segi bisnis kurang menguntungkan.

Satu alat yang dijual Rp 5 juta mendapat masa garansi 1 tahun. Ruginya, jika saat mesin perlu perbaikan timnya harus menuju lokasi dan itu butuh biaya sendiri. ”Kurang ya karena pasarnya sedikit. Makanya, saat ini ada pengembangan lebih besar,” sebut mantan wakil dekan III ini.

Namun, saat alatnya menjadi bagian Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK), artinya alat ini harus memiliki strategi komersialisasi. Semisal, untuk pembuatan alat tak cuma difokuskan bagi penyu saja.

Bisa untuk reptil, labi-labi (kura-kura langka), hingga beberapa telur hewan yang dilindungi lainnya. ”Bisa menggandeng komunitas reptil dan kura-kura untuk mencoba penelitian penetasan telur,” kata dia.

Saat ini saja, alat yang sudah melalang buana di kalangan kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) di kawasan pesisir Jawa Timur. Penyu di berbagai daerah ini mendapat anggaran dari ristekdikti sebesar Rp 192 juta agar bisa dikembangkan lebih. Istilahnya, hilirisasi inovasi kampus. Dari yang awalnya hanya ide dan prototipe, kini harus menjadi produk yang menjual.

Makanya, dalam tim Maticgator, ada tim mekanik dan tim pemasaran. Bahkan, awal mula alat ini diciptakan pada 2015, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur sudah menjadi pelanggan pertama alat ini.

Semakin bertambah peminatnya, hingga saat ini menunggu beberapa klien yang tinggal approve desain dengan tim Maticgator. Ada Taman Nasional Baluran hingga salah satu perusahaan Maritim.

Sukandar yang sejak tahun 2000 concern di perlindungan kekayaan laut ini mengatakan, ke depan alat itu juga ditambahi aplikasi berbasis Android yang bisa dipantau dari jauh. ”Saat ini bisa dipantau lewat HP Android, tapi masih bluetooth. Ke depannya, bisa cuma dari wifi atau sinyal biasa,” pungkas pria kelahiran 1959 tersebut.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahamd Yani