Ingin Lolos Olimpiade Karena Prestasi, Bukan Tertinggi di Dalam Negeri

JawaPos.com-Gregoria Mariska Tunjung sangat sadar bahwa tahun ini sangat krusial. Sebab, Juli mendatang, Olimpiade Tokyo 2020 sudah digelar.

Oleh karena itulah, tunggal nomor satu Indonesia tersebut bertekad untuk terus meningkatkan kualitasnya.

Gregoria ingin penampilannya dalam setiap turnamen bisa terus berkembang.

”Semua atlet pasti sudah bersiap dan terus bersaing ketat. Nggak cuma antar negara, tapi di dalam negaranya juga pasti masing-masing bersaing untuk bisa masuk lolos ke Olimpiade,” kata Gregoria dalam siaran pers PP PBSI yang juga diterima Jawa Pos.

”Kalau saya sendiri saya punya target, kalau lolos Olimpiade nanti bukan cuma karena saya tertinggi saja di antara teman-teman tunggal putri. Tapi memang karena prestasi saya juga bagus dan lolos Olimpiade,” imbuhnya.

Gregoria mengatakan bahwa skuad tunggal putri Indonesia sangat kompak dan saling membantu. Dia bersama dua pemain pelatnas lainnya, Fitriani dan Ruselli Hartawan, terus mendukung dalam latihan dan pertandingan. ”Kami tidak bersaing di dalam tim, karena kami kan dikirim terus pertandingan bersama. Tinggal berusaha saja memberikan yang terbaik,” ucapnya.

Dalam kategori tunggal, hanya ada 16 pemain ranking teratas yang bisa lolos langsung ke Olimpiade. Jika ada sebuah negara yang punya lebih dari dua pemain di kisaran 16 besar dunia, maka mereka cuma bisa mengirimkan maksimal dua tunggal.

Sementara itu, para pemain yang memiliki ranking di luar 16 besar, masih punya peluang bermain di Olimpiade. Jatahnya satu pemain pernegara.

Saat ini Gregoria berada di ranking 24 dunia, tertinggi di antara semua tunggal putri nasional. Jadi, peluang Gregoria untuk berlaga di Tokyo adalah yang terbesar di antara semua pemain Indonesia.

Pada turnamen terakhir yang dia ikuti, Thailand Masters 2020, Gregoria terhenti pada babak perempat final (24/1). Dia disingkirkan unggulan pertama asal Jepang Akane Yamaguchi dalam dua game dengan skor 23-25, 14-21.

Kekalahan dari Yamaguchi tersebut menjadi yang kelima secara beruntun bagi Gregoria dalam total enam duel yang mereka jalani.

Walau kalah, Gregoria sebenarnya menunjukkan peningkatan dalam tiga turnamen pembuka 2020 ini. Sebelumnya pada Malaysia Masters 2020, dia terhenti di babak pertama. Gregoria kalah dari pemain top Thailand Ratchanok Intanon.

Lalu di Indonesia Masters 2020, pekan lalu, Gregoria juga tersingkir pada babak pertama, kalah dari Yamaguchi.

Karena tidak menjadi unggulan, Gregoria memang kerap mendapatkan undian-undian tak menguntungkan pada babak-babak awal sebuah turnamen.

Meskipun berhasil ke perempat final Thailand Masters, Gregoria mengaku belum puas dengan penampilannya. Masalah mental, kata Gregoria adalah problem utamanya saat ini.

”Saya harus memperbaiki mental di lapangan. Selain itu saya juga harus bisa mengendalikan pressure dengan baik. Karena menurut saya, selama ini kayaknya itu yang bikin kalah selama ini,” kata Gregoria.

”Kalau lawan pemain-pemain top memang pasti saya masih kalah dari segi teknik dan fisik, saya masih di bawah mereka. Tapi yang paling penting harus bisa melawan diri sendiri. Karena selain di lapangan ada lawan yang dihadapi, saya juga harus melawan diri sendiri. Sekarang saya masih banyak ambil pusing ke sana. Pengennya ke depannya saya bisa lebih tenang, dan lebih tahu lah harus bagaimana berbuat di lapangan,” tambah pemain berusia 20 tahun itu.