Ingin Jadi Dokter yang Punya Kompetensi Tambahan Keilmuan Haji? FK UIN Malang Tempatnya

Gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Malang

KOTA MALANG – UIN Malang punya fakultas kedokteran yang bisa dibilang beda dari yang lain. Karena jurusan pendidikan dokter dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), yang baru dibuka 2016 lalu itu mempunyai keunggulan berupa dokter haji. Keunggulan tersebut menjadi pembeda dari jurusan kedokteran yang ada di kampus lain.

Wakil Dekan III FKIK UIN Malang, Dr. Imam Sujarwo, M.Pd mengatakan kalau di FK Unisma fokus herbal, di kampus lain ada kemasyrakatan. “FK di UIN Malang ini fokusnya menjadi dokter haji,” ujarnya.

Di kesempatan yang berbeda, ketua jurusan Pendidikan Dokter FKIK UIN Malang, dr. Nurlaili Susanti, M.Biomed menjelaskan, yang dimaksud dokter haji ini ialah dokter yang mempunyai kompetensi tambahan dalam bidang kedokteran haji.

“Ini yang salah kaprah, banyak yang ngira itu dokter yang haji. Itu bukan. Ini maksudnya nanti lulusan sini akan menjadi dokter yang mempunyai kompetensi tambahan dalam keilmuan haji,” tegas Santi, sapaan akrabnya.

Santi menambahkan bahwa dalam kurikulum perkuliahan jurusan pendidikan kedokteran itu telah mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan assesmen dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), suatu badan yang bertugas mengesahkan standar keprofesian kedokteran.

“Jadi kalau sudah memenuhi standar dari KKI itu, lulusan kita itu ya jadi dokter umum seperti biasanya,” ujar ketua jurusan pertama prodi Pendidikan Dokter.

Namun, imbuhnya, haji dalam hal ini ialah berupa keunggulan lulusannya kelak yang merujuk pada satu mata kuliah yang diajarkan. Dalam jurusan tersebut, mahasiswanya kala menginjak semester 8 akan mendapat mata kuliah unggulan, yakni dokter haji setelah melewati seluruh mata kuliah sesuai standar KKI dan mata kuliah wajib kelembagaan. Seperti pengembangan bahasa asing dan keagamaan, pada semester 1-7.

“Mata kuliah dokter haji didapat setelah mata kuliah standar dari KKI dan kelembagaan, seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Mahad (pesantren),” ujarnya.

Dalam mata kuliah teresebut mahasiswa diajari bagaimana mendampingi kesehatan masyarakat Indonesia yang akan berangkat haji. Santi mencontohkan, kalau ada pengidap diabetes yang akan berangkat haji, itu mempunyai perlakuan khusus dan tentunya berbeda dengan pengidap diabetes pada umumnya.

“Kan kalau haji itu ya masif ya berkerumun dengan orang banyak. Bukan hanya itu, nanti pengidap diabetes juga melakukan puasa Arafah. Tentunya itu butuh perlakuan khusus di sana,” ujarnya.

Meskipun mempunyai tambahan kompetensi berupa ilmu kedokteran yang berhubungan dengan haji, Santi mengatakan, lulusannya nanti juga bisa membuka praktik pribadi, atau bekerja sebagai dokter di rumah sakit atau puskesmas sebagai dokter umum.

“Ini juga yang salah, lulusan kami itu kerjanya bukan pas musim haji aja ya. Mereka juga bekerja sebagai dokter umum di puskesmas atau rumah sakit seperti biasanya,” jelas dia kepada radarmalang.id (19/6).

Pewarta: Bob Bimantara Leande
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Bob Bimantara Leander