MALANG KOTA – Karyawan menjadi instrumen paling penting agar usaha sukses. Itulah yang disampaikan Owner Jade Indopratama Malang Rachmad Santoso saat berdiskusi dengan Komunitas Wirausaha Tangan di Atas (TDA) Solo di markas Jade, Jalan Tumenggung Suryo, Kota Malang, kemarin (6/1).
Komunitas ini ingin mengetahui cerita sukses pria yang akrab disapa Rachmad Jade itu. Sebab, Rachmad Jade memang merintis usahanya dari nol sampai akhirnya menjadikan usahanya sebagai ”raja” advertising di Malang Raya. Kini, Jade Indopratama Group mempunyai total 137 karyawan.

Menurut Rachmad Jade, pengusaha harus bisa membuat karyawannya merasa betah. ”Suasana kerja diciptakan. Suasananya tidak tegang. Alat juga dilengkapi. Kalau alat terbatas, orang (karyawan, Red) menjadi ribet,” ucap pria yang hobi olahraga golf dan off-road ini.
Dia memang meyakini bahwa usaha bisa menjadi besar karena kerja keras owner-nya. Tapi, tetap saja si pemilik usaha harus memerhatikan karyawannya. ”Karyawan diperhatikan lah. Malah, di sini, soal gaji karwayan, mereka yang menyarankan,” ujarnya.
Di tempatnya, gaji karyawan sekitar 12 persen dari total omzet perusahaan. Hanya, perusahaan juga tidak boleh jor-joran yang membuat keuangan jadi oleng. ”Saya pernah baca, perusahaan yang sehat itu gaji karyawannya 10% sampai 13% dari omzet perusahaan,” imbuhnya.

Disela-sela diskusi, seorang anggota komunitas TDA bertanya kepada Rachmad. Penanya tersebut bertanya bagaimana caranya menggandeng pihak swasta dalam berbisnis? menurut Jade aneka macam bentuknya. Yang terpenting adalah menciptakan hubungan emosional dengan klien dan calon klien.
Dia mencontohkan, salah satu kliennya, yakni Telkomsel, berawal dari dia ikut bersepeda gunung. Selain itu, cara lain juga bisa dilakukan, seperti menemani konser musik, menonton pertandingan bola, hingga bermain golf. ”Saya beli alat golf. Waktu itu, menurut saya sudah mahal dengan harga tiga juta. Bagaimana caranya tiga juta itu jadi 300–400 juta. Rugi beli tiga juta nggak jadi duit 300 juta.” ucapnya disambut tawa puluhan tamu yang menggelar studi banding.
Dalam berbisnis, perusahaan ini tidak melulu untung. Kadang, dia rugi hingga miliaran rupiah. ”Konser indoor Iwan Fals kami rugi. Konser Dewa di Malang profit, di Jogjakarta BEP, Surabaya profit. Kita mulai membangun brand Malang Jazz Festival tahun pertama rugi 500 juta. Tahun lalu 200 juta,” ujar Adrinaldo, EO Jade Indopratama.
Setelah diskusi, anggota komunitas TDA diajak berkeliling melihat suasana kantor. Mereka melihat produk-produk Jade, kantin, ruang kerja, hingga ke bagian produksi yang terdapat mesin-mesin.

Sementara itu, salah satu anggota komunitas TDA Ahsan Tsaqofi mengaku banyak belajar dari kunjungan kemarin. ”Luar biasa. Pencapaian dan pengembangan bisnisnya bisa kami ambil manfaatnya, terutama bagaimana beliau mengendalikan bisnisnya dan membangun sistem. Sedikit banyak bisa diterapkan di bisnis kami, Tsabita Halal Boga Solo, yang bergerak di bidang halal food,” ucap pemilik usaha Tsabita Halal Boga, Digiqom Solo, dan Digihome itu.
Dia sendiri terkesan dengan ide bisnis Jade yang kreatif. Dia mengaku ingin meniru Rachmad yang memiliki karakter care dan menjadikan karyawannya nyaman bekerja. ”Semoga usaha kami juga bisa mengikuti jejak beliau, terutama di bidang halal food, juga jam digital masjid dan jam digital rumah yang kami rintis,” pungkasnya.

Pewarta : Imarotul Izzah
Penyunting : Irham Thoriq
Copy Editor : Arief Rohman
Foto : Imarotul Izzah