Inflasi Terdongkrak Cabai Rawit

MALANG KOTA – Tingkat inflasi di Kota Malang per Juli lalu mengalami lonjakan hingga 0,2 persen. Penyebabnya karena harga cabai rawit menjelang Idul Adha meroket. Di beberapa pasar tradisional, harga cabai rawit menembus Rp 70.000–Rp 72.000 per kilogram.

Kepala BPS Kota Malang Drs Sunaryo MSi menyampaikan, cabai rawit yang mengalami kenaikan harga sebesar 151,86 persen. Harga cabai rawit ini menyumbang 0,1857 persen dari angka inflasi 0,2 bulan Juli. Kenaikan harga tersebut terjadi juga di beberapa kota lain se-Jawa Timur.

Bahkan, dampaknya menasional. Dia juga menambahkan bahwa salah satu faktor yang merupakan  penghambat inflasi Kota Malang terdapat dari angkutan udara dengan andil sebesar    -0,2343 persen.

”Bulan Juli 2019 ini komoditas penyumbang inflasi terbesar memang cabai rawit dengan andil sebesar 0,1857 persen. ”Pedas”-nya menasional,” terang Sunaryo di aula BPS Kota Malang kemarin.

Dia menjelaskan, angka inflasi Kota Malang tersebut lebih tinggi dari bulan Juli untuk Provinsi Jawa Timur yang berkisar di angka 0,16 persen. Inflasi Kota Malang tertinggi keempat se-Jawa Timur setelah Jember dengan 0,24 persen.

Inflasi bulan ini dipicu oleh naiknya harga beberapa komoditas di antaranya: cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, emas perhiasan, buah pir, taoge/kecambah, ketimun, pisang, labu siam/jipang, dan upah pembantu rumah tangga. ”Bulan ini kelompok bahan pangan merupakan penyumbang angka inflasi paling besar, yakni sebesar 2,01 persen,” jelasnya.

Dia menambahkan, selain bahan pangan, ada pula beberapa kelompok yang turut menyumbang angka inflasi. Yaitu, sandang yang menduduki peringkat kedua dengan inflasi 0,59 persen.

Disusul makanan, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,17 persen. Sedangkan biaya pendidikan rekreasi dan olahraga menyumbang inflasi terkecil sebesar 0,01 persen.

Pewarta : nr4
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib