MALANG KOTA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat, laju inflasi di Kota Malang sepanjang Juli 2017 mencapai 0,30 persen. Angka ini memang lebih rendah ketimbang Juni lalu yang mencapai 0,37 persen. Tapi, di Jawa Timur, angka inflasi sebesar 0,30 persen itu menjadi yang tertinggi.

Bahkan, tujuh kota lain, di bawah Kota Malang mengalami inflasi tak lebih dari 0,18 persen. Kota Madiun misalnya yang menjadi daerah dengan inflasi tertinggi kedua se-Jatim hanya mengalami inflasi sebesar 0,18 persen. Di bawahnya, ada Sumenep yang mengalami inflasi sebesar 0,17 persen.

Lantas, apa yang menjadi penyebab tingginya inflasi di Kota Malang? Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang Dwi Handayani Prasetyawati menyatakan, kelompok pengeluaran yang punya andil mendongkrak inflasi adalah transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Angkanya mencapai 0,1488 persen. ”Penyebab dominan inflasi pada subkelompok ini, yakni naiknya harga tiket angkutan udara,” ujarnya.

Lalu, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga juga turut memberikan ”sumbangan” terhadap laju inflasi Kota Malang. Di antaranya, telur ayam ras, tomat sayur, obat dengan resep dokter, bimbingan belajar, upah pembantu rumah tangga, udang basah, dan rokok kretek filter.

Beruntung, kata Dwi, Kota Malang masih bisa terhindar dari inflasi yang lebih tinggi karena beberapa komoditas mengalami penurunan harga di bulan Juli. ”Komoditas itu di antaranya, tarif angkutan dalam kota, daging ayam ras, cabai merah, batu bata, semen, dan emas,” ujar dia.

Setelah inflasi di atas 0,30 persen, ada harapan laju inflasi yang lebih rendah terjadi di bulan Agustus. Di bulan ini, tidak ada libur panjang atau long weekend yang bisa memicu naiknya tarif angkutan.

Satu-satunya tanggal merah atau libur nasional adalah momen peringatan Hari Kemerdekaan RI yang jatuh pada 17 Agustus ini. Momen peringatan itu jatuh pada hari Kamis.

Sebagai perbandingan, pada Agustus 2016 lalu, Kota Malang justru mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Deflasi itu terjadi seiring turunnya tarif angkutan udara dan kereta api. Lalu, ada pula komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan kelapa yang turun.

Pewarta: Fisca Tanjung
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati