Indonesian Fashion Chumber Chapter Malang Gelar Event Langka

Para model dan desainer dalam Indonesian Fashion Chumber (IFC) Chapter Malang

KOTA MALANG – Trunk show perdana yang digelar Indonesian Fashion Chumber (IFC) Chapter Malang ini tergolong langka. Umumnya, event serupa diselenggarakan di tempat yang simpel seperti mall atau taman, kali ini di restoran. Tepatnya di Saigon San Hotel Tugu Jumat malam (21/12).

Konsep yang disuguhkan juga berbeda, yakni gala dinner. Menggabungkan dunia fashion dengan makanan. Para tamu yang hadir bisa menikmati lezatnya menu makanan sambil menyaksikan para model berlenggak-lenggok di catwalk.

Karya yang diperagakan para model cantik itu milik enam desainer anggota IFC. Keenam desainer itu adalah Febby Ayusta, Silla Dawilah, Andy Sugix, Febby Antique, Agus Sunandar, dan Nafil Apim.

Sejumlah tamu undangan tampak terpesona saat mengamati karya desainer yang diperagakan model-model tersebut. Termasuk Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Malang Widayati, fashion people, dan influencer.

”Kami baru menampilkan enam desainer. Tapi, ke depan akan lebih banyak lagi (desainer). Niatnya sih akan menggelar rutin. Mungkin setiap tiga bulan sekali, dengan desainer bergantian,” kata Agus Sunandar, ketua IFC Chapter Malang di sela-sela acara.



Mengenai tema yang diangkat, Agus menerangkan bahwa selain konsep trunk show yang berbeda, tema yang dipakai juga unik, yakni Editrix (tokoh fashion yang menjadi panutan). Konsep ini menggabungkan banyak gaya desainer dalam satu fashion show. Mulai dari busana muslim, etnik, gaun malam kultur, hingga urban.

”Saat ini digelar di Saigon San, bisa jadi ke depan akan berbeda-beda tempatnya. Ya, sesuai tema,” katanya.

Misalnya ketiga digelar bersamaan Ramadan, Agus akan mengangkat tema tentang gaun muslim. ”Tempatnya juga akan kita cari yang karakter religinya lebih kuat,” tandas dosen Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Dengan digelarnya trunk show, dia berharap, karya desainer bisa dijangkau oleh masyarakat. Agus yakin mulai ada pergeseran. Jika dulunya desainer lebih eksklusif dan tidak tersentuh masyarakat, kali ini tidak.

Agus menerangkan, salah satu visi misi IFC adalah menghadirkan desainer untuk masyarakat. ”Makanya kami membuat karya-karya yang bisa dijangkau masyarakat. Walaupun karya desainer, tapi harganya tidak mahal-mahal,” papar Agus.

Agus ingin memasyarakatkan fashion. ”Salah satu cara untuk membuat masyarakat nyaman dengan perkembangan fashion, ya terus membuat event-event fashion yang lebih dekat kepada masyarakat,” pungkasnya.

Pewarta: Binti
Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Mahmudan
Fotografer: Rubianto