Indonesia Ajukan Bidding Tuan Rumah Piala Dunia 2034, Ini Harapan RD

Rahmad Darmawan, Piala Dunia 2034, Indonesia, Bidding Tuan Rumah

JawaPos.com – Indonesia bersama sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara siap mengajukan bidding sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Lalu, bagaimana kekuatan sepak bola Indonesia pada 14 tahun mendatang?

Masa depan sepak bola Indonesia pernah dibahas dalam kursus pelatih Pro AFC di Jogjakarta, 14-20 April lalu. Menurut salah satu pelatih ternama di Indonesia, Rahmad Darmawan, Indonesia punya potensi untuk menjangkau level yang lebih tinggi.

“Bisa jadi, kalau penggarap pembinaan pemain muda secara serius,” ucap Rahmad ketika berbincang dengan JawaPos.com beberapa waktu lalu.

Pelatih yang akrab didapa RD ini mengapresiasi langkah PSSI yang mulai serius menggarap sepak bola usia dini. Menurut RD, pemain-pemain muda inilah yang menjadi penentu masa depan sepak bola pada sepuluh hingga 14 tahun ke depan.

“Sekarang ini lagi digarap usia 16 tahun untuk berkompetisi. Kalau ini jadi, dan tahun berikutnya memberikan kesempatan kepada tim 14 tahun untuk berkompetisi, akan sangat hebat,” jelas RD.

Pelatih Sriwijaya FC ini menambahkan, salah satu problem sepak bola Indonesia adalah tidak adanya kompetisi berjenjang di kelompok umur. Akibatnya, banyak pemain yang hebat di usia muda akhirnya tenggelam karena tidak difasilitasi oleh kompetisi.

“Ya sudah, berhenti atau stagnan. Sehingga berkembangnya lamban. Sebab yang membuat pemain cepat berkembang adalah kompetisi,” jelas pelatih yang pernah menukangi klub Malaysia, Terengganu FC itu.

Sementara perkembangan sepak bola dunia dia prediksi akan semakin cepat, lebih aktraktif, lebih sempit lagi lapangannya. Skill pemain juga terus berkembang dengan metode latihan yang lebih canggih.

“Nantinya ilmu kesehatan dan kedokteran akan semakin menemukan bagaimana nutrisi bisa dibuat sedemikian rupa untuk menjadikan suatu kelebihan bagi pemain. Tentu akan ada sesuatu hal yang berbeda, terutama dari sisi teknik pemain,” sambung RD.

Indonesia saat ini sudah merumuskan Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filanesia) yang dituangkan dalam buku Kurikulum Pembinaan Sepak bola Indonesia. Buku tersebut disusun oleh pelatih-pelatih Indonesia di bawah komando Danurwindo.

“Jadi kami fokus saja ke sana. Orientasinya saya lihat mirip-mirip dengan sepak bola Spanyol. Itu yang saya lihat. Itu yang kita fokuskan saja. Karena itu yang lebih baik karena sudah melewati suatu pengkajian teman-teman pelatih Indonesia juga,” tutupnya.

(saf/JPC)