Indeks Baca Alquran Mahasiswa UIN Malang Tertinggi se-Indonesia

Lomba MTQ dalam ajang PIONIR IX di UIN Malang

KOTA MALANG – Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat merilis hasil Penelitian Kemampuan Baca Tulis Alquran (BTQ) Mahasiswa UIN se-Indonesia.

Dalam rilis hasil penelitian yang diseminarkan di Jakarta, 6 November 2019 itu muncul nama UIN (Universitas Islam Negeri) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang sebagai kampus Islam yang memiliki indeks tertinggi dalam baca Alquran dengan. Nilainya mencapai 3,94 dari skala 1-5.

Adapun, koresponden dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 3-5.

Direktur Pusat Ma’had al-Jamiah UIN Malang, Dr Ahmad Muzakki, mengatakan hasil tersebut merupakan output dari dua program yang dimiliki UIN Malang.

Dua program tersebut ialah Ta’lim Alquran dan Thasih Alquran yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa semester 1 dan 2 UIN Malang selama mondok di Pusat Ma’had al Jamiah (PMJ).

“Dengan dua program itu UIN Malang memang mendorong semua mahasiswanya untuk bisa dan lancar dalam membaca Alquran. Ini dimulai ketika mereka tinggal di Ma’had,” tuturnya

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa Ta’lim Alquran ialah sebuah program di mana mahasiswa UIN Malang diajarkan tentang teori-teori atau tajwid Alquran.

“Di Ta’lim Alquran mahasiswa mempelajari tentang hukum bacaan seperti makharajul huruf, hukum bacaan ra’, sampai macam- macam idgham,” tuturnya.

Dalam pengajarannya pun, kata Kyai Muzakki, sekitar 3500 mahasiswa baru itu dibagi menjadi tiga kelas dari kelas dasar, kelas menengah, kelas tinggi.

“Mahasiswa yang masuk UIN Malang kan tingkat keilmuannya beragam. Jadi, kami bagi dari yang dasar hingga yang tinggi. Biar apa yang diajarkan itu tidak lebih dan tidak kurang sesuai kemampuan masing-masing mahasiswa,” ujarnya.

Terkait waktu pengajarannya, mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti kelas tersebut pada malam hari, tepatnya saat ba’da salat isya’.

“Dalam seminggu, mereka wajib mengikuti kelas selama dua kali,” kata dia.

Sementara untuk praktik teori membaca Alquran, mahasiswa melakukannya pada siang hari dalam program thasih Alquran.

Dalam thasih alquran ini mahasiswa diarahkan untuk mengkhatamkan 30 juz Alquran.

Setiap mahasiswa musti menyetorkan bacaannya satu persatu dihadapan seorang ustaz atau yang biasa disebut mushohih.

“Waktunya antara jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Mahasiswa untuk setor bacaan Alquran ini bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliah mereka,” tuturnya.
Target waktu untuk khatam Alquran ini beragam. Untuk mahasiswa kelas tinggi wajib menuntaskannya dalam dua semester.

“Kalau kelas menengah dan dasar bisa melanjutkannya sampai semester 3 ke atas. Soalnya harus pelan-pelan dan benar bacaannya. Itu perlu waktu tidak bisa satu tahun dipukul rata,” tuturnya.

Agar program tersebut berjalan dengan efektif, kata Kyai Muzakki, pihaknya juga menyinergikan hasil dari dua program tersebut dengan persyaratan kuliah reguler.

“Jadi kalau tidak mengikuti thasih atau tidak khatam dan juga tidak lulus ta’lim Alquran, mahasiswa tidak bisa mengambil seminar proposal pada waktu semester akhir kelak. Itu sudah tersistem,” bebernya.

Sebagai informasi, selain UIN Malang, ada 13 kampus UIN lainnya yang disurvei LPMQ Badan Litbang dan Diklat Kemenag.
Antara lain UIN Yogyakarta, UIN Walisongo Semarang, UIN Jakarta, UIN Makassar, UIN Sumatera Utara, UIN Padang, UIN Surabaya, UIN Palembang, UIN Bandung, UIN Lombok, UIN Banda Aceh, dan UIN Pekanbaru.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: istimewa
Editor : Indra M