Indahnya Harmoni di Sedekah Bumi Kelenteng Eng An Kiong

Ribuan Warga Kota Malang Hadir dalam acara pembagian bingkisan dalam acara ritual sedekah bumi di Kelenteng Eng An Kiong, Kemarin (Photo: Rubianto/Radar Malang)

MALANG KOTA – Ribuan orang itu sudah mengular sejak Yayasan Kelenteng Eng An Kiong, Kota Malang, belum dibuka kemarin (25/8). Warga tersebut adalah orang-orang yang hendak mengambil sedekah bumi yang dibagikan oleh yayasan yang berdiri sejak 193 tahun silam itu.

Tak tanggung-tanggung, ada total 7.000 paket sembako yang dibagikan dalam sedekah bumi. Kalau ditotal, ada 40 ton sembako yang diberikan. Satu paket sembako berisi beras sekitar empat kilo dan mi dua bungkus per orang. Selain berlimpah sembako, sedekah bumi ini seolah-olah menjadi harmoni karena penerimanya adalah orang yang tak mampu dari berbagai etnis.

Selain itu, ada juga anak-anak yang dengan polos mengambil dan ikut mengantre untuk mendapatkan sedekah bumi. ”Seneng dapat sembako gratis. Bisa buat makan setiap hari. Tiap tahun saya juga ke sini,” kata Riyati, warga asal Muharto, Kotalama, di sela-sela mengantre sembako kemarin (25/8).

Sementara itu, rohaniwan Khonghucu sekaligus humas Yayasan Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang Bunsu Anton Triyono menyampaikan, pihaknya menyiapkan paket sembako lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.

Tahun lalu, pihaknya menyiapkan sekitar 12.000 paket sembako. Sedangkan tahun ini, pihaknya menyiapkan 7.000 paket sembako. ”Harapan kami, setiap tahun makin menurun jumlah warga yang datang ke sini (ambil sembako gratis, Red),” ucap pria yang menjadi humas sejak 2015 ini.



Menurut dia, semakin sedikit warga yang datang untuk mengantre sembako di tempatnya makin bagus. Sebab, tingkat kemiskinan di masyarakat makin sedikit. ”Kalau yang datang ke sini sedikit, berarti program pengentasan kemiskinan pemerintah berhasil,” imbuhnya.

Untuk diketahui, sedekah bumi digelar setiap bulan ke-7 tanggal 15 tahun lunar atau kalender China. Sedekah bumi ini merupakan rangkaian dari sembahyang kepada leluhur. ”Di Tiongkok, bulan ketujuh terjadi paceklik hebat. Kami selalu berdoa agar bumi tidak terjadi paceklik,” imbuhnya.

Lebih lanjut, pihaknya tidak memberi tiket maupun karcis kepada warga yang mengambil sembako. Siapa saja boleh mengambil sembako, termasuk warga dari luar Kota Malang. ”Kalau paket itu (7.000 paket sembako) kurang, kami sudah menyiapkan stok di belakang (belakang tumpukan paket sembako yang disediakan),” terang pria yang menjadi humas sudah 3 tahun ini. ”Sembakonya dari umat. Kalau waktu pengumpulannya sekitar dua minggu,” ungkapnya.

Selain pembagian sembako, pada akhir acara juga dilakukan pembakaran ogoh-ogoh berwarna merah setinggi lima meter. ”Ogoh-ogoh ini simbol kejahatan, hal negatif, makanya dibelenggu agar tidak mengganggu acara ini,” katanya.

Sementara itu, Plt Wali Kota Malang Sutiaji mengapresiasi turunnya jumlah penerima sedekah bumi. Ini membuktikan kalau jumlah kemiskinan di Kota Malang terus menurun. ”Saya tanya persediaannya bertambah, tapi dimohon yang daftar jangan bertambah terus. Ketika tambah terus, berarti ada indikasi kemiskinan kita semakin bertambah. Jadi, kalau bisa yang datang nggak banyak, tapi bingkisannya yang banyak,” kata Sutiaji dalam sambutannya saat hadir di acara ini.

Di akhir sambutannya, Sutiaji mengajak undangan yang hadir untuk berdoa bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Lombok. ”Kita berdoa menurut agama dan keyakinan kita masing-masing. Kalau hari ini (kemarin) kita bisa hadir (di acara sedekah bumi). Tapi, saudara kita di Lombok juga dalam kegelisahan, maka kita perlu bersyukur. Artinya, masih dalam suasana kenikmatan,” pungkasnya. (im/c2/riq)