Indah Nur Qoriah, Pelopori Gerakan Nasi Bersubsidi hingga Bedah Rumah

Selama Tiga Tahun, Tekor Rp 1,2 Juta Per Hari

Indah Nur Qoriah menunjukkan batik lukis miliknya di Galeri Butik Cantiq, Jalan Raya Asrikaton, Pakis, Kabupaten Malang.

Indah Nur Qoriah adalah satu di antara segelintir pengusaha yang berjiwa sosial. Bersama teman-temannya di Warung Ikhlas Malang, Indah menyubsidi 200–300 nasi bungkus per hari. Dia juga membantu merenovasi rumah warga.

Papan bertuliskan ”Butik Cantiq” terpajang di rumah Indah Nur Qoriah di Jalan Raya Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Meski terpasang papan nama besar, tapi tidak tampak pembeli di rumah bercampur galeri itu.

Memasuki galerinya, suasananya terasa sibuk. Kontras dengan halaman depan yang sepi. Di ruangan bercampur beberapa kain batik itu tampak perempuan sibuk menyiapkan ratusan bingkisan berisi takjil. Bingkisan tersebut akan dibagikan secara cuma-cuma kepada warga yang membutuhkan.

”Kami tidak pernah menentukan hari ini akan pergi ke mana. Jalan saja dulu. Kalau di tengah perjalanan kami bertemu orang yang dianggap membutuhkan, ya kami berhenti di situ (membagi takjil),” ujar Indah sambil menyiapkan 100 bungkus takjil.

Barangkali Ramadan ini banyak orang yang membagikan takjil gratis. Namun, yang membedakan Indah dengan kelompok lain adalah dia tidak hanya beramal saat bulan suci Ramadan.



Di luar Ramadan, perempuan yang kesehariannya menjadi perajin batik itu juga gemar beramal. Bedanya, jika Ramadan dia membagikan takjil gratis. Sementara saat bulan-bulan lain di luar Ramadan, dia menjual nasib bungkus bersubsidi.

Jika di warung-warung nasi bungkus harganya Rp 5.000, Indah hanya menjual Rp 1.000. Dengan demikian, dia tekor Rp 4.000 per bungkus. Bisa dibayangkan berapa biaya yang Indah keluarkan untuk menyubsidi nasi bungkus itu.

Dalam seminggu, setidaknya tiga kali dia menjual nasi bungkus. Yakni, Selasa membuka lapaknya di Pasar Besar, sementara Kamis jualan di Kampung Boldy Jodipan.

”Kalau Sabtu biasa jual di Pasar Besar dan Comboran,” terang perempuan 51 tahun yang kesehariannya menjadi perajin batik itu.

Setiap membuka lapak, Indah menyediakan 200–300 bungkus nasi. Dengan demikian, dana subsidi yang dia keluarkan mencapai Rp 800.000–Rp 1,2 juta. Aktivitas menjual nasi bungkus bersubsidi itu dia lakukan sejak 2015. Memang Indah tidak seorang diri, tapi dia bersama teman-temannya yang tergabung di komunitas Warung Ikhlas Malang.

”Kami terinspirasi (komunitas) Warung Ikhlas Jakarta. Kalau di sana ada, kenapa di Malang tidak? Makanya saya dan teman-teman bikin inisiatif untuk mendirikan Warung Ikhlas Malang,” kata Indah yang didapuk menjadi direktur Warung Ikhlas Malang itu.

Nasi bungkus ini dia jual kepada mereka yang tidak mampu. Tiap pembeli maksimal hanya diperbolehkan membeli dua bungkus nasi.

”Kalau tidak dibatasi, nanti yang lain tidak kebagian. Jumlah masyarakat yang tidak mampu di Malang Raya banyak sekali,” tutur Indah.

Selain memelopori gerakan menyubsidi nasi bungkus, Indah membantu membedah rumah warga. Tentu sasarannya adalah warga miskin. Memang tidak selalu merenovasi total, seperti program bedah rumah yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang.

Indah bersama anggotanya di komunitas Warung Ikhlas Malang menyesuaikan sesuai kebutuhan warga yang dia bantu. Misalnya hanya dinding yang rusak, hanya dindingnya yang diperbaiki. Demikian juga penyediaan perabotan juga dia bantu.

”Kadang ada teman-teman ngasih barangnya yang sudah tidak dipakai di rumahnya. Ya, tetap kami terima karena bagi yang lain benda itu masih sangat dibutuhkan,” terangnya.

Bagi nenek satu cucu itu, bisa berbagi dengan sesama adalah keindahan yang tidak bisa diukur secara materi. Sama seperti namanya, Indah.

”Dalam Alquran juga sudah disampaikan kalau kita harus berbagi. Allah SWT kasih saya makanan, maka saya juga harus memberi makanan kepada orang lain. Allah SWT memberi saya baju, berarti saya juga harus memberi baju orang lain,” katanya.

Pengalaman Indah dalam berbagi sudah dia tuangkan dalam buku yang ditulisnya. Kini sudah dua buku yang sudah dia tulis dan di-launching. Satu di antaranya berupa buku cetakan fisik, sementara satu lainnya dia bagikan secara gratis dalam bentuk e-book.

Kedua buku tersebut berjudul Menciptakan Keajaiban Finansial dan Energi Murni Alam Semesta.

Dua buku tersebut ditulis Indah atas dasar pengalaman spiritualnya ketika bertemu dengan berbagai karakter orang.

”Ada banyak kisah yang saya dengar dari orang-orang itu. Semua orang pasti punya sisi menarik, tidak peduli dia kaya maupun miskin,” tutur ibu empat anak itu.

Kisah-kisah itu dirangkum dan dikemas ke dalam karya-karyanya. ”Sebagian saya tulis dalam bentuk buku, yang belum tertampung saya muat di blog,” ujar Indah yang juga aktif menjadi blogger tersebut.

Rupanya, pengalaman yang dia tulis dalam buku mengundang perhatian banyak orang. Dua tahun belakangan ini, Indah sering menerima kunjungan dari orang-orang yang putus asa. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Khusus tamu jauh, alumnus Universitas Brawijaya (UB) Malang ini menyediakan tempat tinggal gratis di rumahnya.

Ditanya mengenai sumber dana yang dia gunakan untuk menyubsidi nasi bungkus, Indah menyatakan, ada donasi dari teman-temannya. Selain itu, dia mengandalkan hasil dari bisnis batiknya. Bisnis fashion tersebut sudah dia geluti sejak 2003 silam.

Dibantu enam karyawannya, batik lukis karya Indah kini sudah dipasarkan ke beberapa kota besar. Seperti Surabaya, Jogja, dan Jakarta. Beberapa di antaranya bahkan terbang ke Negeri Jiran, Malaysia.

”Kalau batik biasa kan hanya bisa dinikmati 2 dimensi. Tapi, kalau batik lukis bisa diolah lagi sehingga bisa dinikmati keindahannya menjadi 3 dimensi,” terang perempuan berhijab itu.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono