Ilmuwan Diaspora Minta Eksekusi Pemindahan Ibu Kota Harus Cermat

Ilmuwan Diaspora Minta Eksekusi Pemindahan Ibu Kota Harus Cermat - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA – Para ilmuwan diaspora yang terjaring dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) mendukung ide Presiden Joko Widodo untuk memindahkan ibu kota RI ke Kalimantan. Namun, para diaspora ini mewanti-wanti agar eksekusinya harus cermat dan efektif. Di samping perlu perencanaan matang bagaimana model ibu kota baru nanti.

“Kalau tujuan presiden memindahkan ibu kota itu baik ya kami dukung. Apalagi tujuan presiden bukan memindahkan pusat bisnis tapi pemerintahannya saja. Ada beberapa di daerah bisa dibangun lebih bagus misalnya kondisi kotanya,” kata Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, ilmuwan muda diaspora yang ditemui JPNN.com di sela-sela rangkaian acara Simposium Cendekia Kelas dunia di Jakarta, Jumat (16/8).

Peraih doktoral termuda di usia 26 tahun ini mencontohkan di Jerman untuk membangun sebuah kota masterplan-nya harus fix dulu. Jangan heran bila kita datang ke Jerman tahun 2010. Kemudian 2020 datang lagi, kondisinya begitu-begitu saja. Sebab, sejak awal kotanya sudah bagus karena ada plan jangka panjang.

“Kalaupun dipindah rencananya harus matang. Jangan gegabah. Jangan pindah ibu kota ke Kalimantan hanya karena misalnya kotanya tidak rawan bencana. Harus dilihat juga apakah airnya bagus juga listriknya,” terang Mas Ito, sapaan akrabnya.



Ilmuwan muda berusia 31 tahun yang tengah menunggu pengukuhan sebagai profesor ini juga menyarankan sebaiknya di ibu kota baru nanti dikembangkan renewable technology (teknologi terbarukan), nano teknologi misalnya solar cell (tenaga matahari).

“Sistem transportasi penting sekali dibangun agar tidak seperti Jakarta yang sudah sumpek dan macet. Kalau di Kalimantan lihat medannya, teknologi apa yang bsa dikembangkan, bagaimana pantainya, dekat enggak,” tuturnya.

Sementara Dr Bagus Putra Muljadi, ilmuwan diaspora di Amerika Serikat berpendapat, ketimpangan ekonomi adalah cikal bakal masalah sosial yang harus diperhatikan pemerintah Indonesia. Sebab, ketimpangan ekonomi dan sosialnya sangat tinggi.

Asisten professor di Departemen Teknik Kimia dan Lingkungan, University of Nottingham ini mencontohkan, banyak perguruan tinggi terbaik terkonsentrasi di pulau Jawa.