Ikut Kirab Budaya, 20 Ribu Orang ”Berpesta” di Jalur Lintas Selatan Malang

KABUPATEN – Jalan lintas selatan (JLS) di sepanjang Pantai Bajul Mati, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, kemarin (29/9), menjadi lautan manusia. Sekitar 20 ribu orang memenuhi jalan sepanjang 3,5 kilometer tersebut.

Kendati panas datang menyengat, tapi warga antusias melihat Kirab Budaya dalam rangka Hari Jadi ke-1258 Kabupaten Malang tersebut. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Malang Beach Festival (MBF). Total ada 76 tim yang tampil. Mereka datang dari kalangan organisasi perangkat daerah (OPD), swasta, hingga sekolah.

Beragam mobil hias ambil bagian dalam acara kemarin. Ada yang berbentuk miniatur kerajaan, kapal ikan, hingga miniatur hutan rimba. Sedangkan peserta yang tampil juga tak kalah heboh. Ada yang menggunakan kostum karnaval dengan bobot 20 kilogram. Penampil ini datang dari Kediri. Sekitar 20 penampil, semuanya menggunakan kostum dengan berat sekitar 15–20 kilogram.

Tidak kalah heboh adalah penampilan dari Kecamatan Wajak. Sekitar 20 orang memakai egrang raksasa. Dengan memakai egrang, orang yang memakai kostum biru dan hijau itu berlenggak-lenggok. Ditemani musik disko yang mengalun, penampilan mereka membuat tertawa para peserta dan undangan yang hadir. Selain itu, ada juga mobil hias dari Wonosari yang menampilkan Garuda Wisnu Kencana. Mobil hias berukuran jumbo ini tak pelak memancing perhatian pengunjung untuk foto bersama.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara bersyukur dengan kemeriahan acara kemarin. ”Tahun ini tidak ada batasan kuota peserta, rata-rata satu kontingen membawa 200 orang. Kalau ditotal jumlah penonton dan pesertanya bisa hingga 20 ribu orang,” kata Made kemarin (29/9).

Selain dari Kabupaten Malang, ada peserta dari luar kota, yakni dari Kota Malang dan Kota Kediri. ”Ini sebagai bentuk kerja sama. Sebab, kami juga sering mengirim perwakilan ketika mereka ada kegiatan,” jelasnya.

Melalui kerja sama ini, sektor pariwisata Kabupaten Malang juga bisa dikenal daerah lain. Apalagi MBF sudah menjadi ikon wisata Kabupaten Malang. Jadi, perlu dikenalkan kepada masyarakat luas. ”Jelas kami terbantu untuk melakukan promosi wisata, tidak hanya di lokal Malang,” kata Made.

Menurut dia, gelaran Kirab Budaya tahun ini lebih tertata. Terutama dari akses lalu lintasnya. Tidak sampai ada kemacetan di sepanjang arena kirab. Jadi, penonton menjadi lebih nyaman dalam menikmati suasana. ”Tahun ini, arus lalu lintas jadi prioritas agar tidak terjadi kemacetan parah. Kendaraan yang mengarah ke Pantai Bajul Mati dan Pantai Ungapan tidak diperbolehkan masuk sehingga pawai bisa lancar,” jelas mantan Kadispora Kabupaten Malang tersebut.

Sementara itu, Bupati Malang Dr H. Rendra Kresna menginginkan agar MBF bisa masuk kalender event nasional. Jadi, tidak hanya masyarakat Malang yang menikmati. Tapi, masyarakat Indonesia secara luas. ”Targetnya tahun depan sudah  bisa masuk event nasional. Ini untuk mendongkrak potensi Malang Selatan,” katanya.

Bahkan, pihaknya sudah mengundang tim dari Kementerian Pariwisata untuk menyaksikan secara langsung sehingga bisa segera mendapatkan persetujuan untuk masuk event nasional. Memang tidak mudah untuk bisa diakui secara nasional. Salah satunya kesiapan masyarakat untuk sadar wisata. ”Pokdarwis sudah ada, itu yang harus dimaksimalkan. Sebab, masyarakat tidak hanya jadi penonton, tapi juga menjadi pelaku wisata,” jelasnya.

Menurut dia, dari dua kali pelaksanaan MBF sudah dievaluasi dari segi kesiapan. Hasilnya masyarakat semakin sadar wisata. Jadi, hanya perlu dilakukan pendampingan dan penguatan. ”Sudah waktunya Malang Selatan naik kelas. Targetnya tahun depan sudah terealisasi,” tandasnya.

Selain Bupati Malang Rendra Kresna dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara, yang hadir kemarin adalah istri Rendra yaitu Jajuk Rendra Kresna, anak Rendra yang juga anggota DPR RI Kresna Dewanata Phrosakh, Pimpinan Cabang Bank Jatim Moch. Ridho Yunianto, Sekda Kabupaten Malang Didik Budi Muljono, dan sejumlah pejabat lain. (haf/c2/riq)