Iklim Buruk, Produksi Apel Bikin Ngenes

KOTA BATU –  Produksi apel di Kota Batu bikin ngenes. Selain produksi menurun, kualitasnya juga tidak bagus. Ini tidak serta-merta salah petani saja. Beberapa factor, mulai dari iklim, tingkat kesuburan tanah, dan pemeliharaan berupa pupuk yang semakin sulit, membuat sebagian petani harus memutar otak.

Rotasi tanam menjadi salah satu cara terbaik. Hal itu disadari betul oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Bangkit Kota Batu Winardi. Pria asal Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, itu menyadari jika para petani apel mengalami kesulitan, baik masa pembenihan hingga masa panen.

”Sangat susah sekarang merawat tanaman apel. Adik saya itu kemarin gagal panen, busuk semua buahnya, dikasih makan kambing,” kata dia.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, dia meminta agar Pemkot Batu segera melakukan evaluasi. Selama ini memang program pemberian bibit sudah diagendakan, namun pendekatan rutin sangat diharapkan agar para petani apel tidak lantas kebingungan selanjutnya. Dia menyatakan, di Desa Pandanrejo, jumlah petani apel selalu mengalami penurunan setiap tahunnya.

Pria berusia 45 tahun itu menyebut jika hal itu dikarenakan rendahnya harga apel di pasaran. Sehingga banyak petani yang beralih ke komoditas lain. Selain itu, perubahan iklim yang luar biasa beberapa tahun terakhir juga menjadi pemicu punahnya petani apel di Pandanrejo.

”Selain itu, perawatannya yang harus intens juga membuat petani beralih ke jenis lain. Yah, tiap tahun selalu berkurang. Dulu hampir setiap rumah punya kebun apel, sekarang di Pandanrejo hanya sekitar 30 orang saja,” katanya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, permasalahan petani apel bukan dari lahannya yang rusak, melainkan iklim yang sudah tidak bagus. Sebaiknya pemerintah lebih sering melakukan pendampingan untuk memecahkan masalah itu. ”Kalau pemerintah sungguh-sungguh untuk merevitalisasi itu, artinya butuh waktu sekitar lima tahun ke depan.

Kami selalu mendukung, hanya saja harus ada tindak lanjutnya,” imbuh dia. Menurut dia, produktivitas hasil panen apel setiap tahunnya semakin berkurang. Dulu mulai tahun 2000 untuk satu hektare lahan apel bisa menghasilkan 30 ton apel. Namun, mulai lima tahun terakhir, produksi itu semakin parah.

”Yang biasanya mampu 8 ton per hektare, Kakak saya hanya dapat 6 kuintal. Sementara yang biasanya panen 6 ton, kemarin justru busuk semua buahnya,” pungkasnya.

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib