ICW: Ketua KPK Membuat Gimmick Nasi Goreng Saat Situasi Genting

JawaPos.com – RADARMALANG.ID – Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritik gaya pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jilid V yang gemar bersafari ke sejumlah lembaga negara. Padahal, seharunya lembaga antirasuah yang dikomandoi Firli Bahuri mencari keberadaan tersangka pemberi suap kasus proses pergantian antarwaktu (PAW) Harun Masiku yang masih berstatus buron.

“Justru pimpinan KPK bukannya malah serius menangani perkara ini, akan tetapi justru malah terlalu sering safari ke beberapa lembaga negara,” kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Senin (11/2).

“Ketua KPK malah menunjukkan gimmick aneh dengan memasak nasi goreng disaat-saat genting seperti ini,” sambungnya.

Kurnia menegaskan, Firli Cs harusnya dapat memberikan tenggat waktu untuk mencari mantan Caleg PDIP Harus Masiku yang hingga kini masih menjadi buronan. Sebab kini, Harun telah 33 hari menjadi buronan KPK.

“Pimpinan KPK harus menjelaskan kepada publik tenggat waktu pencarian Harun Masiku. Sebab, proses ini sudah terlalu berlarut-larut,” tegasnya.

Kunia menegaskan, jika Firli Bahuri Cs secara terus-menerus bersafari maka tak salah jika memandang pimpinan KPK saat ini tak punya niat serius menuntaskan perkara ini. Padahal, belakangan KPK disebut gagal menyegel kantor DPP PDIP.

“Misalnya saja merujuk pada kegagalan KPK dalam menyegel kantor PDIP, kegagalan pimpinan KPK menjelaskan apa yang terjadi di PTIK, dan perihal kantor DPP PDIP yang sampai saat ini tak kunjung digeledah oleh KPK,” tukas Kurnia.

Sebelumnya, pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri mengklaim, tidak ada kendala dalam proses pencarian Harun Masiku. Ali menyebut, Polri pun turut membantu menyebatkan foto Harun di Polsek maupun Polres seluruh Indonesia.

“Tidak ada kendala. Itu memang terakhir dr penyidik sudah menyebarkan daftar pencarian orang ke seluruh Indonesia,” kata Ali di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (10/2).

Juru bicara berlatar belakang Jaksa ini menyebut, pimpinan KPK pun telah menginstruksikan jajarannya untuk tidak berhenti mencari keberadaan politikus PDIP itu. Menurutnya, KPK belum menemukan tempat persembunyian Harun.

“Sementara belum ada update. Karena belum tau dia ada dimana, kalau ada kan langsung ditangkap,” pungkas Ali.

Harun diduga merupakan salah satu kunci terkait perkara yang diduga melibatkan petinggi PDIP. Penyidik lembaga antirasuah hingga kini masih mendalami asal-usul uang Rp 400 juta yang diberikan untuk Wahyu Setiawan melalui sejumlah perantara.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Harun Masiku selaku caleg DPR RI fraksi PDIP dan Saeful.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Atas perbuatannya, Wahyu dan Agustiani Tio yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau Pasal 12 Ayat (1) huruf b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Muhammad Ridwan