Ibu-Ibu Protes Bleduk Tol

Pengerjaan proyek tol Malang–Pandaan (Mapan) diprotes warga Kampung Boro Panggung, Dusun Tanjung, Desa Banjarejo, Kecamatan Singosari.

SINGOSARI – Pengerjaan proyek tol Malang–Pandaan (Mapan) diprotes warga Kampung Boro Panggung, Dusun Tanjung, Desa Banjarejo, Kecamatan Singosari. Senin kemarin (18/9), puluhan warga yang didominasi ibu-ibu menggelar demo untuk memprotes polusi bleduk (debu) yang berdampak pada permukiman warga. Selain itu, mereka mengeluhkan polusi suara bising alat berat yang bekerja 24 jam nonstop.

Sambil membawa kardus bekas yang ditulisi beragam keluhan, para pendemo mendatangi lokasi proyek tol yang melintasi wilayah Dusun Tanjung. Sejumlah ibu-ibu tampak bersahutan menyuarakan komplain terkait polusi udara dan suara yang bersumber dari proyek tol. Sego (nasi), sayur, kopi, klambi rasa bleduk (debu). Begitu salah satu isi tulisan warga di kardus bekas yang mereka bawa.

Aksi demo warga tersebut langsung direspons jajaran Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Singosari. Beberapa perwakilan warga dan kontraktor proyek tol, PT Pembangunan Perumahan (PP), dipertemukan lewat mediasi yang digelar di rumah Miskan, ketua RW XVI Dusun Tanjung.

Camat Singosari Eko Margianto menyatakan, ada sejumlah poin protes warga atas pembangunan proyek jalan bebas hambatan tersebut. ”Salah satunya, karena debu dan suara bising yang disebabkan aktivitas kendaraan yang berlalu lalang ke area proyek,” ujar Eko.

Sementara dua tuntutan lain, Eko menerangkan, terkait dengan rumah warga yang retak dan ketersediaan akses kesehatan bagi warga yang tinggal di area sekitar pembangunan tol. ”Alhamdulillah, setelah diskusi, baik warga maupun kontraktor sudah sepakat menindaklanjuti keluhan yang disampaikan warga,” terang dia.



Jika sebelumnya pengerjaan proyek tersebut dilakukan secara nonstop, setelah mediasi kemarin pihak kontraktor sepakat pengerjaan di bagian timur hanya sampai pukul 21.00. Sementara di area lain, pengerjaan tetap berjalan seperti biasa.

Manajer Operasional PT PP Heri Wijoyo menuturkan, setelah muncul protes dari warga, pihaknya langsung melakukan evaluasi internal. ”Masalah debu sebenarnya dalam sehari sudah kami lakukan penyiraman antara 6 sampai 7 kali. Tapi, karena cuaca yang sangat terik, (upaya tersebut) jadi kurang,” kata Heri. Meskipun begitu, Heri akan mengupayakan penambahan jam kerja water tank.

Sementara soal kerusakan rumah warga, Heri menuturkan, pihaknya langsung menyampaikan keluhan warga tersebut ke pusat. ”Rumah yang retak akan kami cek dulu. Dan kalau memang itu akibat dari pekerjaan proyek ini, pasti kami perbaiki,” jamin Heri.

Untuk diketahui, pengerjaan proyek tol Mapan di Kecamatan Singosari sudah dikebut sejak tiga bulan terakhir. Empat desa di Singosari yang terdampak proyek tersebut antara lain, Desa Baturetno, Tamanharjo, Watugede, dan Banjararum. Proyek senilai Rp 1,35 triliun ini ditargetkan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun 2018 mendatang.

Pewarta: Farikh Fajarwati
Penyunting: Ahmad Yani
Copy Editor: Arief Rohman
Fotografer: Falahi Mubarok