HUT Surabaya ke-726: Transportasi Masal Jadi Pekerjaan Rumah

JawaPos.com – Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan setelah Surabaya merayakan hari jadi ke-726 kemarin (31/5). Mulai transportasi masal, penguatan sumber daya manusia, hingga peningkatan kualitas air.

Peringatan yang dipusatkan di Taman Surya, halaman Balai Kota Surabaya, itu bukan hanya upacara, melainkan juga penyerahan penghargaan untuk warga kota yang dinilai berjasa dan pertunjukan kolosal bertajuk Soera ing Baia. Pertunjukan tersebut berkisah tentang perjuangan Majapahit melawan tentara Tartar.

Hampir seluruh pemeran dalam pertunjukan itu adalah anak-anak usia sekolah. Mulai Paud hingga SMP. Sebanyak 726 anak tersebut terlibat sebagai penari remo sesuai bilangan ulang tahun Surabaya. Ada pula yang berperan sebagai prajurit Majapahit, tentara Tartar, tentara Belanda, pejuang kemerdekaan, dan pembawa bendera. Juga, penampilan kelompok pemusik patrol, drum band, dan seni hadrah. Ada pula seni karawitan dan paduan suara yang tampil mengiringi upacara sejak awal.

Sementara itu, forum komunikasi pimpinan daerah Kota Surabaya, kalangan veteran, perguruan tinggi, dan perusahaan di Surabaya duduk di tamu undangan. Rata-rata menggunakan baju kebaya untuk perempuan dan beskap bagi laki-laki.

ULTAH: Sebanyak 726 penari remo dari berbagai sekolah tampil bareng di Taman Surya, Jumat (31/5). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

Risma mengungkapkan, ulang tahun kali ini dirayakan dengan meriah. Hal tersebut berbeda dengan tahun lalu yang masih diliputi duka karena peristiwa pengeboman di Surabaya. Pihaknya membuat peringatan yang melibatkan anak-anak secara aktif. “Saya memang jaga semangat juang mereka terus dan terus dan itu memang sengaja by design,” ujar Risma setelah upacara.

Dia menuturkan, memang masih banyak hal yang harus diselesaikan. Misalnya, pembangunan sarana transportasi masal yang sekarang dilayani dengan bus. Meski demikian, menurut Risma, masih diperlukan moda transportasi untuk penumpang yang berkapasitas lebih besar. “Mungkin wali kota berikutnya bisa realisasikan trem gitu, kami nggak perlu MRT yang bawah tanah karena biayanya besar. Trem saja sudah cukup,” ungkap Risma.

Risma menyebutkan, hal lain yang perlu diselesaikan adalah penyiapan air PDAM untuk siap minum, bukan hanya untuk mandi.