Hujan, Intensitas Produksi Gerabah Menyusut

PAGELARAN – Musim hujan menjadi momen tersulit bagi perajin gerabah dari Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran. Lamanya proses pengeringan gerabah turut berimbas pada intensitas produksi mereka. Rubianto, salah satu perajin di Kampung Gerabah Pagelaran, menuturkan, normalnya proses pengolahan gerabah bisa diselesaikan dalam waktu sepekan. Itu kalau cuaca sedang cerah.

”Kalau musim hujan tidak tentu, kalau mendung terus bisa sampai tiga pekan baru selesai (pengolahannya),” kata dia. Dalam satu hari, dia yang dibantu istrinya bisa memproduksi hingga 200 buah kerajinan. Bentuknya pun beragam, mulai dari kendi, cobek, pot bunga, prapen (tempat membakar arang), hingga tempat pakan kelinci.

Harga yang dibanderolnya beragam. Mulai dari Rp 1.300 hingga lebih.  Menyesuaikan tingkat kesulitan dan besarnya produk gerabah. Hasil produksi perajin di sana biasanya bakal diambil para pengepul. Kini, dengan bertambahnya waktu produksi mereka, intensitas pemasaran yang dilakukan perajin pun turut berkurang. ”Jadinya ya menyesuaikan hasil dari kami,” jelas pria yang juga menjadi guru di SMP Sunan Ampel Pagelaran tersebut. 

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya