Hujan 1 Jam, Lumpuh 4 Jam

Banjir yang sempat melumpuhkan Kota Malang beberapa waktu lalu

MALANG KOTA – Hujan deras yang mengguyur sekitar sejam (pukul 14.30–15.30) mengakibatkan Kota Malang ”lumpuh”. Hal itu karena beberapa ruas jalan tergenang air setinggi lutut orang dewasa sehingga kendaraan yang melintas terjebak macet. Deretan kendaraan memanjang hingga berkilo-kilometer itu terkena macet hampir empat jam, yakni sejak pukul 15.00–19.00.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang, setidaknya ada lima titik macet akibat banjir. Yakni, sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Borobudur, sepanjang Jalan Letnan Jenderal Sunandar Priyo Sudarmo, sepanjang Jalan Letjen Sutoyo, dan Jalan Ahmad Yani. Informasi yang diterima wartawan koran ini, kemacetan juga terjadi di Jalan Veteran, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan LA Sucipto. Diperkirakan, banjir disertai kemacetan juga terjadi di titik lain.

Luapan air yang menutupi ruas jalan itu juga membuat beberapa pengendara terpaksa menepi. Khususnya kendaraan roda dua. Sementara bagi sejumlah pengendara yang memaksa menerobos, kendaraannya mogok karena mesin kemasukan air.

Salah satu pengendara, Edi Siswanto menepikan kendaraannya di Jalan Letnan Jenderal Sunandar Priyo Sudarmo karena motornya kemasukan air. ”Macet (sepeda motor, Red). Ini saya tadi (kemarin) dorong dari jalan yang kena banjir,” kata Edi sambil menunjuk genangan air berjarak sekitar 50 meter itu.

Hal senada diungkapkan Hilda Fitria, pengendara lain. ”Macet setiap hari saja sudah bikin males, apalagi kena banjir seperti sekarang ini,” keluhnya.



Sementara itu, General Manager Klinik Mata SMEC Franky Tomas menyatakan, banjir kali ini tergolong besar. Bahkan, sejak mendirikan klinik di Jalan Letnan Jenderal Sunandar Priyo Sudarmo pada 2016, baru kali ini diterjang banjir besar. ”Sebelumnya tidak pernah terkena banjir dan macet seperti ini,” kata dia.

Di lokasi lain, derasnya hujan memakan korban. Dua unit mobil terperosok ke sungai. Yakni, mobil Honda Jazz milik Yopi ringsek karena dibawa arus sungai. Mobil tersebut tergerus air dari sungai di Jalan Bukirsari hingga Jalan Bantaran. Kemudian, satu mobil lain adalah Daihatsu Sigra. Mobil berwarna putih itu mulanya terparkir di Jalan Bukirsari, RW 08, Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru. Diduga terseret air, mobil tersebut terperosok ke sungai.

”Kalau ndak salah, tahun lalu (2018) ada pos ambruk tergerus arus sungai di situ,” ucap Yui Setiawan, salah satu saksi mata.

Derasnya guyuran air hujan itu juga mengakibatkan bencana di area flyover Arjosari. Diduga akibat tersapu angin kencang, pohon di samping flyover tumbang, kemudian menimpa mobil box yang melintas.

Selain itu, siswa kelas V SDN Madyopuro 5 Dimas Oky Syahputra juga menjadi korban bencana. Bocah asal Jalan Ki Ageng Gribig terseret arus Sungai Amprong. Hingga pukul 22.00 masih dilakukan pencarian.

Keterangan dari beberapa tetangga korban, mulanya Dimas mandi bersama teman-temannya sekitar pukul 12.30. Tidak lama bermain, tiba-tiba si Chiko, salah satu temannya, melihat korban tenggelam. Tapi, dia tidak berani melaporkan dan langsung pulang ke rumahnya. ”Mungkin takut dimarahi atau bagaimana, kami kurang tahu,” ujar Kapolsek Kedungkandang Kompol Suko Wahyudi.

Wahyudi menceritakan, peristiwa tenggelamnya korban baru diketahui sekitar pukul 14.30. Saat itu, Munir, paman korban, berencana mancing ikan di sungai. Ketika tiba di sungai, Munir melihat baju Dimas di tepi sungai. ”Setelah kami tahu bahwa itu baju korban (Dimas). Kami bersama warga menyisir sungai untuk mencari. Tapi, hingga saat ini masih belum ditemukan,” ucapnya.

Berdasarkan keterangan keluarga yang disampaikan kepada Wahyudi, Dimas mempunyai riwayat epilepsi. Jadi, dimungkinkan korban kecapekan berenang sehingga tidak kuat menahan saat terseret air sungai. ”Dugaan kami masih karena capek atau kambuh penyakitnya sehingga korban ikut hanyut. Mohon doanya saja, semoga cepat ketemu,” pungkasnya.

 

Sutiaji: Ini Pekerjaan Rumah Kita

Menanggapi banyaknya kawasan yang diterjang banjir, Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, pihaknya telah memerintahkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menanganinya. Dia menyampaikan permohonan maaf terhadap warga yang terdampak. Misalnya pemilik mobil yang terperosok ke sungai, pengendara yang terjebak macet, tertimpa pohon, hingga terseret arus sungai.

Di sisi lain, dia juga meminta warga menyadari bencana banjir tersebut. ”Cuaca ekstrem ini tidak tahu kapan datangnya dan melanda siapa saja. Ini pekerjaan rumah kita semua,” ucap Sutiaji melalui pesan singkat.

Sutiaji menduga, banjir menimpa Kota Malang karena bendungan sungai di belakang Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak ditutup. Jadi, debit air sungai tidak menampung dan menggelontor ke bawah. Selain itu, sampah-sampah yang mengganggu saluran air juga diyakini menjadi salah satu penyebabnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Handi Priyanto menyampaikan, personel BPBD sudah turun ke lapangan untuk melakukan pendataan dan assessment terkait dengan bencana yang terjadi. ”Sejak dapat laporan, kami sudah perintahkan personel untuk turun,” ucapnya.

Tapi, karena keterbatasan personel dan sarana-prasarana, Handy menyatakan, pihaknya tidak bisa maksimal. Apalagi, bencana yang datang juga sporadis. ”Pencegahan bencana ini tanggung jawab kita semua. Perlu adanya kepedulian dari kita semua,” ujarnya.

 

Sejak 2017, DPUPR Fokus Bangun Drainase

Sedangkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang Hadi Santoso menyatakan, banjir di sejumlah titik di Kota Malang disebabkan air dari Kota Batu. ”Karena di Kota Malang tidak begitu deras hujannya, mungkin di Kota Batu deras sekali,” kata pria yang akrab disapa Sony ini.

Menurut dia, air dari Sungai Brantas di Kota Batu, ada yang mengalir ke anak-anak sungai di Kota Malang. Dari anak sungai inilah, lalu dialirkan ke saluran-saluran irigasi. ”Dari jaringan irigasi inilah yang kemudian tumpah, besok (hari ini, Red) akan dilakukan pengaturan pintu air irigasi. Kami sudah bekerja sama dengan dinas sumber daya air (SDA),” imbuhnya.

Selain air yang mengalir cukup deras dari Kota Batu, banjir juga disebabkan banyaknya sampah di selokan. ”Tadi (kemarin) kami temukan bambu yang menyumbat, besok (hari ini, Red) akan kami bersihkan secara bersama-sama,” imbuhnya.

Ditanya mengenai antisipasi banjir, menurut dia, sejak 2017 lalu Pemkot Malang sudah fokus membangun drainase. ”Jadi, fokus kami memang drainase. Agar bisa menyerap air dari luar ke dalam, bukan gorong-gorong yang sifatnya bulat dan tidak terlalu bisa menyerap air,” imbuh mantan kepala dinas pertanian ini.

 

Pewarta: Moh Badar Risqullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Mahmudan
Foto: Rubianto