Hoax Bencana di Tengah Bencana

Di akhir pesan, pembuat kabar palsu itu menyebutkan bahwa sumber informasi tersebut berasal dari pantauan handy talky frekuensi badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Pesan yang awalnya menyebar lewat aplikasi percakapan itu menjadi viral setelah muncul di Facebook. Ada yang menyalin naskah informasi tersebut sebagai status dengan disertai gambar longsoran tanah yang menutupi jalan.

Kabar itu pun terdengar juga oleh BPBD Kabupaten Purworejo. Petugas diterjunkan untuk mengecek informasi ke lokasi sesuai dengan nama daerah yang tertulis di pesan. Yaitu, Dusun Klesen, Kecamatan Kaligesing. Meski sudah mengubek-ubek lokasi, petugas tidak menemukan longsoran sebagaimana informasi yang tersebar.

Huda, seorang petugas piket BPBD Kabupaten Purworejo yang dihubungi Jawa Pos, mengatakan bahwa kabar longsor di Dusun Klesen, Kaligesing, Purworejo, adalah hoax. ’’Sudah ada petugas yang mengecek. Tidak ada kejadian seperti itu. Kabar tidak benar, Mas,’’ ucapnya.

Menurut dia, dusun di Purworejo tidak bernama Klesen. Tetapi Klesem. Nama dusun itu sama persis dengan yang terkena banjir di Pacitan. ’’Mungkin disama-samakan, Mas. Yang jelas di Purworejo tidak ada,’’ tegasnya. BPBD juga sudah mengeluarkan siaran resmi bahwa kabar bencana longsor tersebut adalah hoax. Masyarakat diminta untuk tidak menyebarkan pesan terusan itu.

Sayangnya, banyak pengguna medsos yang langsung percaya dengan pesan tersebut. Ada yang bertanya tentang lokasi. Ada yang menanyakan perkembangan. Ada juga yang mengaitkannya dengan daerah lain. Bahkan, ada yang menuliskan doa.

Pembuat hoax, tampaknya, sudah mengetahui kapan pesan tersebut sebaiknya disebar. Sebab, saat ini terjadi bencana di sejumlah daerah. Di antaranya, Gunung Agung di Bali, banjir di Pacitan, dan longsor di Jogja. Karena itu, informasi tersebut dengan cepat menyebar dan mudah dipercaya.

Bukan hanya itu. Erupsi Gunung Agung di Bali pun masih saja diterpa kabar tidak benar. Misalnya, yang terjadi kemarin, tersiar kabar bahwa ada hujan batu sebesar kepalan tangan yang bersumber dari erupsi. Kabar itu dengan cepat merebak melalui medsos. Kondisi tersebut diperparah pemberitaan sejumlah media massa online yang memperkuat embusan kabar itu.

Informasi tersebut langsung memicu keresahan. Sebab, menurut kabar yang beredar, batu yang menghujani sebuah desa tersebut sebesar sekepalan tangan. Karena batu itu muntahan gunung berapi, panasnya mencapai 500 derajat Celsius.

Liarnya informasi itu mendorong Gubernur Bali I Made Mangku Pastika dan jajaran Forum Pimpinan Daerah Bali mengadakan jumpa pers. Made menegaskan bahwa kabar hujan batu sekepalan tangan adalah bohong. Informasi tersebut dipastikan hoax. Sejumlah netizen pun mencibir portal berita online yang masih saja menyebarkan berita tersebut.

FAKTA
Tidak ada bencana tanah longsor di Kabupaten Purworejo. Begitu juga dengan erupsi Gunung Agung di Bali. Tidak ada hujan batu sebesar kepalan tangan yang panasnya mencapai 500 derajat Celsius.


(eko/gun/c15/fat)