MALANG KOTA – Orang-orang Arab mempunyai sejarah panjang di Kota Malang. Diperkirakan, orang muslim Arab sudah masuk ke Kota Malang pada 1854 atau 163 tahun silam. Hingga saat ini, mereka masih eksis. Apalagi, saat Ramadan seperti ini. Mereka pun berdagang tentang banyak hal yang berkaitan dengan Arab. Di antaranya, nasi kebuli, kurma, gamis, kopiah, kitab, dan lain-lain.

Di Malang, setidaknya ada dua pusat orang-orang Arab. Yakni, di Kampung Arab dan di Embong Arab. Lantas, apa bedanya dari kedua tempat tersebut? Kampung Arab merupakan daerah yang mayoritas penduduknya keturunan Arab. Mereka tersebar di berbagai titik di Kelurahan Kasin, Kota Malang. Namun, yang paling banyak di RW 10, yakni 70 persen warganya merupakan keturunan Arab.

Sementara itu, Embong Arab merupakan nama jalan yang mayoritas pedagangnya orang Arab. Di Kota Malang, mereka berpusat di Jalan Sarif Al Qodri atau di deretan Rumah Makan Cairo yang legendaris itu. ”Di sini disebut Kampung Arab karena mayoritas penduduknya orang Arab,” kata Laila, ketua RW 10, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, kemarin (14/6).

”Pengaruh dari orang Arab di sini hampir tiap hari ada majelis taklim, tapi orang Jawa juga ikut kegiatan yang diadakan oleh keturunan Arab,” imbuh perempuan yang berprofesi pedagang ini.

Abdul Razak, salah seorang keturunan Arab yang sudah berumur 75 tahun, bercerita, sekitar tahun 1854, pemerintah Hindia-Belanda membuat kebijakan pengelompokan masyarakat. Mereka yang dikelompokkan, yaitu warga Eropa, asing timur (Tiongkok, Mongolia), dan pribumi. Kemudian, di tahun 1860, keluarlah peraturan yang menggolongkan warga Arab dan semua keturunannya. Menurut penelitian yang diceritakan neneknya Razak, keturunan Arab di Kota Malang berasal dari Yaman. Tepatnya, Kota Hadramaut dan Tarim.

Menurut dia, orang-orang Arab sangat dekat dengan dunia niaga dan spiritual. Mereka datang berbarengan dengan pedagang dari Eropa, Tiongkok, dan Melayu.

”Tapi saat itu, pedagang Arab lebih suka berbaur dengan pedagang dari pribumi dan melayu,” kata pria yang sejak lahir tinggal di Kampung Arab, Kota Malang ini.

Setelah dua kelompok ini berbaur, warga Arab merasa ada kesamaan dengan kelompok Melayu. Yakni, dari kehidupan sehari-hari dan agama. Selain itu, mereka menyiarkan agama Islam. Dengan demikian, di Kampung Arab saat ini sebenarnya ada jejak para pendakwah. Sedangkan, orang Melayu saat itu hampir menjadi mayoritas warga di kampung tersebut. Waktu itu, mereka sudah lebih dulu menganut agama Islam ketimbang warga pribumi.

Dan karena itulah, banyak pendatang Arab yang menikah dengan warga Melayu. ”Ada juga yang menikah dengan orang pribumi,” ujar pria yang merupakan keturunan keempat yang tinggal di Kampung Arab.

Dahulu kala, keberadaan orang Arab tersebar di seluruh Kota Malang. Sedangkan, lokasi tempat berdagangnya di sekitar Pasar Besar. Di tengah Razak bercerita, Laila yang menyimak menambahkan, keberadaan para pendatang yang menyebar ini dipetakan menurut kelompoknya. Awalnya, warga Arab diminta untuk menempati area yang sekarang berada di belakang Masjid Jami’ Kota Malang.

Saat ini, kawasan tersebut dikenal dengan nama Embong Arab. Embong Arab inilah yang dulunya disebut sebagai jalan milik orang Arab.

Pewarta: Nurmansyah
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Bayu Eka