Hidup Lebih Bersemangat setelah Pensiun

Hidup Lebih Bersemangat setelah Pensiun

HANGAT: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (kanan) disambut hangat oleh Noor Yasin (kiri) di kediaman pribadinya Kamis (1/2) lalu.
(NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

Hidup harus direncanakan agar kelak setelah pensiun bisa memulai kehidupan baru yang lebih berguna.

Tanggal 2 Februari lalu Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus Noor Yasin mengakhiri masa dinas sebagai aparatur sipil negara (ASN). Saya tertarik menyelami suasananya. Kebetulan masa jabatan saya sebagai direktur Radar Kudus tinggal menghitung hari. Kalau tidak ada perubahan sampai 15 Februari mendatang.

Selagi menunggu itu, saya ingin merasakan suasana batin Pak Noor Yasin ketika betul-betul memasuki masa pensiun. Berkali-kali dalam berbagai kesempatan dia konsisten mengatakan akan momong cucu. Ditanya wartawan pun demikian. Namun, saya tidak percaya. Orang sekelas Noor Yasin hanya ingin momong cucu.

Noor Yasin memiliki tiga cucu dari dua anaknya. Namun, tak ada satupun yang ikut dengannya. Sehari-hari Noor Yasin hanya berdua dengan istrinya, Chudlil Chikmah. Ketika Kamis (1/2) lalu saya bersilaturahmi ke rumah pribadinya di Bakalan Krapyak, dia juga hanya berdua. Sehari sebelumnya ketika dia dilepas oleh ribuan pegawai Pemkab Kudus, anak-cucunya juga tidak tampak.

Saya tak menangkap suasana batin suram. Saat itu rumahnya memang sepi. Noor Yasin sendiri yang menyambut di teras rumah berlantai dua. Saya bersama wartawan Noor Syafaatul Udhma. Kami malah disambut istimewa. Suguhan jajanan dihidangkan sendiri oleh Ny. Chudlil Chikmah. Kami diajak makan siang juga dengan menu utama sup daging.

Penampilan Noor Yasin masih tetap gagah dan berwibawa. Berbaju batik tulis dengan latar hitam bercelana senada. Di sakunya masih menempel pulpen seperti sehari-hari ketika dia berdinas. Hari itu masih ada beberapa pegawai Setda Kudus yang wira-wiri di rumahnya. Membereskan sisa-sisa tugas. Pensiun sesungguhnya baru esok harinya 2 Februari.

‘’Kalau ditanya, memang saya selalu menjawab momong cucu,’’ akunya.  Tapi, apa betul? ‘’Itu hanya kelakar,’’ ungkapnya dengan tertawa. Nah, benar, kan. Orang sekelas Noor Yasin tidak akan menghabiskan masa pensiunnya dengan hanya momong cucu. Motonya sudah jelas. Hidup adalah perjuangan dan pengabdian.

Ketika dia mulai meniti karir sebagai pegawai negeri, pengabdian itu sudah dia tunjukkan. Surat keputusan (SK) pengangkatannya sebagai PNS bermasalah. Dua tahun tak kunjung kelar. Namun, dia tetap mengajar di SMPN 3 Jekulo, Kudus. tempat dia bertugas kali pertama. Selama dua tahun itu dia  tidak bisa gajian. ‘’Biaya hidup saya tetap dari orang tua,’’ ceritanya dengan tersenyum.

Mendidik bukan hanya bagian dari hidupnya. Tetapi sudah menjadi cita-citanya. Maka setelah pensiun sejatinya dia ingin kembali ke dunia pendidikan. Memanfaatkan pengalamannya sebagai guru dan kepala sekolah. Dia sudah menyiapkan sejak lama. Kini Noor Yasin masih tercatat sebagai pengurus Yayasan Al-Islam yang mengembangkan lembaga pendidikan formal. Dia juga aktif di Yayasan Universitas Muria Kudus dan Akbid Kudus.

Baginya pengabdian harus tetap berlangsung meski sudah penisun dari pegawai negeri. Usianya memang sudah 60 tahun (lahir 22 Januari 1958). Tapi dia masih merasa memiliki kemampuan. Malah sekarang mendapat tawaran yang lebih menantang. Yaitu merebut kursi wakil bupati Kudus 2018-2023. Dia berpasangan dengan Masan, ketua DPRD Kudus, yang mencalonkan diri sebagai bupati lewat PDIP. Peluang baru itu semakin membuat Noor Yasin lebih bersemangat.

Saya mendapat pelajaran berharga dari Noor Yasin. Kebetulan latar belakang saya juga sama. Sama-sama lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya juga pernah aktif di  lembaga pendidikan swasta. Bahkan sampai sekarang sekolah yang saya dirikan di Malang, Jatim, juga masih berkembang. Tapi, apakah saya lantas bisa terjun ke dunia pendidikan, kelak kalau pensiun, entahlah.

Sesungguhnya saya telah memasuki masa pensiun tahun 2010. Ketika genap berusia 50 tahun. Masih cukup muda. Namun, itulah ketentuan di Jawa Pos. Harapannya setelah pensiun karyawan masih bisa memanfaatkan waktunya untuk berbuat. Entah itu berbisnis atau mengabdi di masyarakat.

Anehnya, saat memasuki masa pensiun itu saya tidak diberi Surat Keputusan (SK) pensiun. Saya belum diperbolehkan mengakhiri masa tugas. Justru diberi pekerjaan yang lebih berat. Itu berlaku bagi karyawan yang memiliki prestasi lebih. Saya tidak tahu di mana kelebihan saya. Sudah tujuh tahun masa dinas saya diperpanjang.

Sekarang masa dinas saya tidak lagi tergantung pada usia. Sepenuhnya kewenangan para pemegang saham Jawa Pos Radar Kudus yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Rencananya RUPS akan dilaksanakan 15 Februari mendatang. Kalau RUPS memutuskan untuk mengganti saya sebagai direktur, berarti saya harus pensiun.

Saya sudah siap betul. Sebelum memasuki masa pensiun juga sudah dilakukan persiapan-persiapan. Saya sudah pernah dipanggil untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan pensiun. Materinya macam-macam. Ada cara berbisnis di masa tua, menginvestasikan uang pensiun, mengatur pola makan, membiasakan diri berolahraga, melakukan kegiatan sosial, mengurus keluarga, dan macam-macam. Waktunya sampai lima hari.

Ribet juga. Mau pensiun kok pakai pelatihan segala. Tapi itulah komitmen Jawa Pos. Tidak ingin karyawannya terlunta-lunta saat tidak berdinas lagi. Jawa Pos ingin agar karyawannya tidak hanya menunggu kematian. Tetapi, memulai hidup baru. Life begin at 50. Saat itu hidup jauh lebih sulit dibanding masa-masa sebelumnya.

Jawa Pos dan grupnya betul-betul memperhatikan kehidupan setelah berdinas. Dana pensiun tidak cukup hanya menggantungkan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Radar Kudus menginvestasikan di salah satu perusahaan manajemen pengembangan dana untuk memberikan kepastian kepada karyawan. Tujuannya agar kelak kalau mereka pensiun ada kepastian mendapat jaminan hari tua.

Uang pensiun saja tidak cukup. Seberapapun banyaknya kalau tidak dikelola dengan baik akan cepat habis juga. Apalagi kalau karyawan lantas sakit-sakitan dan harus keluar-masuk rumah sakit. Maka perlu dilakukan persiapan-persiapan. Lebih-lebih urusan mental. Agar tidak terjadi post power syndrome.

Tirulah Noor Yasin. Meski telah pensiun di usia 60, semangatnya semakin menyala. ([email protected])

(ks/ris/aji/JPR)