Heri Cahyono, Arek Malang yang Kelilingi Lima Negara Balkan dengan Motor Tempel Stiker Ongis Nade di Rite Legendaris

Di hari ke-9 ekspedisi keliling negara Balkan, kontributor Radar Malang Heri Cahyono tiba di Stelvio Pass, Italia. Ini adalah satu dari 10 rute paling legendaris di dunia. Ada 48 kelokan di rute ini. Jalannya menanjak, mengarah ke puncak tertinggi hingga 2.757 di atas permukaan laut.

Hotel Eller yang kami tinggali, berfasilitas fantastis. Tidak ada AC, karena cuacanya sangat dingin. Maka, disediakan pemanas ruangan, hingga pemanas handuk. Makanan yang disajikan pun istimewa, karena dimasak oleh chef internasional.

Hotel Eller

Hotel Eller dikelilingi oleh pegunungan Alpen. Letaknya di lembah, dan menjadi pusat olahraga salju ketika musim dingin. Pada musim panas seperti sekarang ini, justru turisnya sedikit. Saat musim dingin, hotel ini full booked.

Saya pun membayangkan, bagaimana suasananya jika saat musim dingin, di mana semua tertutup oleh salju, dan di sana ramai lalu-lalang orang bermain salju dan bermain ski. Di bulan November, hampir semua hotel di lembah Solda itu tutup selama 1 bulan.

Di musim panas seperti ini suhu rata-rata 6–9 derajat Celcius. Masih cukup dingin. Apalagi empasan sinar matahari menambah kehangatan udara pagi. Saya pun begitu kerasan tinggal di hotel itu. Ingin rasanya lebih lama lagi tinggal di sana.

Hari itu kami akan melanjutkan perjalanan ke Kota Milan. Ini adalah rute terakhir yang menjadi puncak dari perjalanan ekspedisi kami. Hari itu kami berbangga karena akan menjajal salah satu jalan legendaris yang dirindukan oleh biker dunia. Apalagi kalau bukan Stelvio Pass. Ini adalah satu dari 10 greatest route in the world.

Stelvio Pass

Dengan kondisi agak kedinginan, kami memulai perjalanan. Menurut rencana, kami akan menempuh jarak sekitar 353 kilometer. Kami menuruni lembah Solda untuk kembali ke jalan utama menuju daerah Solda di Fuori dan Gomagoi. Selepas turunan tajam, kami dihadapkan pada tanjakan yang cukup panjang. Jalan semakin mendaki, dan sudah tentu suhu semakin dingin.

Hampir semua kontur jalan berupa tikungan tajam. Menanjak dan pendek. Mirip kelok 44 di daerah Sumatera. Bedanya di sini jauh lebih panjang dari kelok 44 Sumatera. Pada rute terakhir ini, adalah rute yang paling banyak berhenti. Apalagi kalau bukan mengambil momen indah supaya tak terlewatkan.

Tepat pukul 11 siang, akhirnya kami sampai di National Stelvio Park. Ini adalah deretan rumah dan hotel cantik, seolah menyambut kedatangan kami. Rombongan kami pun terpencar, karena masing-masing ingin mengabadikan diri di sudut terindah daerah itu. Saya melanjutkan perjalanan ke atas sendirian. Berbekal tongsis dan kamera saku yang sudah saya siapkan.

Sekitar 10 menit berselang, akhirnya sampailah saya di jalan legendaris: Stelvio Pass. Jalanan ini berkelok tajam, sejumlah 48 kelokan, yang mengarah ke puncak tertinggi di Stelvio National Park. Ketinggiannya sekitar 2.757 meter di atas permukaan laut.

Ini adalah puncak tertinggi kedua di pegunungan Alpen yang bisa dilalui oleh kendaraan, setelah puncak Col de I’Iseran di Prancis. Hanya berbeda 13 meter ketinggiannya. Dua kali saya berhenti di kelokan ini untuk mengabadikan setiap sudut keindahan yang setiap jengkalnya menampilkan eksotisme alam.

Tiba di puncak, saya berhenti sejenak. Saya istirahat dengan mencari teh hangat dan roti sebagai asupan makan siang. Tak lupa pula saya menempelkan stiker ”Ongisnade Dirt Bike” sebagai bukti ”sah” bahwa saya telah melalui Stelvio Pass.

Selama 30 menit kami istirahat di sini. Karena kami harus segera ke Kota Milan. Motor sewaan harus dikembalikan sesuai perjanjian. Tak boleh lewat dari jam 5 sore. Jika telat, denda akan menanti. Begitulah aturan di barat. Sangat profesional dan cenderung kaku.

Dari Stelvio Park jalan terus, menurun, bersisi jurang dan tebing tajam. Sesekali masuk terowongan yang diatur bergantian lalu lintasnya. Permukaan jalanan yang sebagian basah mengharuskan kewaspadaan.

Perlu diketahui, di Eropa, sesulit dan sesempit apa pun jalan, semuanya aman dilalui. Itu karena oleh negara benar-benar diatur. Jika terdapat jalan yang rusak dan membahayakan, tanpa ada rambu bahaya, maka masyarakat bisa mengajukan tuntutan.

Penurunan ketinggian yang drastis, sempat membuat kami sedikit kepanasan. Baju penghangat dan jas hujan akhirnya kami lepas. Padahal suhu masih kisaran 15 derajat Celcius. Mungkin karena badan sudah ter-aklimatisasi selama 2 hari di pegunungan ini, sehingga mulai bisa beradaptasi.

Tak banyak yang diceritakan setelah Stelvio Pass, kecuali menyaksikan kawasan pedesaan di Italia Selatan yang rapi, di sepanjang perjalanan. Yang teringat adalah daerah Trento-Rovereto yang tak kalah cantiknya dengan deretan rumah dan hotel di Stelvio National Park.

Jam 3 sore, kami sudah masuk Kota Brescia. Kami masuk tol tak berbayar auto strada yang sangat banyak terowongannya. Kemudian kami masuk ke daerah Treviglio dan Melzo. Pukul 17.30 kami sudah tiba di Milan. Kami mengembalikan motor sewaan, lengkap dengan perhitungan penggantian kerusakan. Alhamdulillah, meski sedikit lecet motor yang saya kendarai, tapi oleh pemilik persewaan tak dipermasalahkan. Berakhirlah ekspedisi kami.