Hebat, Siswi ini Raih Nilai 100 UNBK karena Suka Main Games Waktu Belajar

Banyak siswa yang menganggap pelajaran Kimia sebagai momok di sekolah. Sebab, mata pelajaran itu menuntut siswa hafal dan mengerti rumus-rumus jlimet. Namun, hal tersebut tak berlaku bagi Faizatun Ni’mah. Bahkan, gadis 18 tahun ini mampu meraih nilai sempurna pada UNBK Kimia tahun ini. Apa rahasianya?

KERJA KERAS: Faizatun Ni’mah menunjukan surat kelulusan di MA Bilingual Kota Batu Rabu lalu (17/5).

Siswi berhijab unggu di ruang kepala MA Bilingual Kota Batu, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, tampak kelelahan pagi itu. Keringatnya masih tampak bercucuran. Sesekali dia mengambil nafas dalam-dalam saat berada di ruangan sekitar 4 x 5 meter itu.

Siswi itu adalah Faizatun Ni’mah, peraih nilai 100 ujian nasional berbasis komputer (UNBK) dalam mata pelajaran (mapel) Kimia. Saat itu, dia baru selesai jogging di sekitar sekolah.

”Maaf, Mbak, habis jalan-jalan (olahraga, makanya berkeringat, Red),” kata Faizatun Ni’mah kepada Jawa Pos Radar Batu sambil mempersilakan masuk ke ruangan pada Rabu lalu (17/5).

Gadis kelahiran 16 Maret 1999 ini mengaku tak menyangka bakal meraih nilai sempurna pada UNBK mapel Kimia. Dia bercerita, saat UNBK berlangsung, dia meragukan 3 jawaban dari 40 soal yang ada. Hal itu membuatnya tak yakin kalau dirinya bakal meraih nilai sempurna.

”Tiga nomor itu sulit. Nggak yakin kalau benar jawabannya,” ungkap gadis 18 tahun ini.



Namun, prestasi itu mungkin jadi harga yang pantas bagi Ni’mah. Sebab, dia berjuang sangat keras sewaktu mempersiapkan UNBK tersebut. Setiap hari Ni’mah meluangkan waktu 2–3 jam, khusus untuk belajar mapel Kimia. Tak ayal, porsi mapel ini lebih lama dibandingkan mapel lain.

Namun, di sela-sela belajar, ada kebiasaan yang selalu dilakukan Ni’mah. Yaitu main game di telepon genggamnya dan berselancar di media sosial. ”Supaya tidak jenuh. Karena butuh konsentrasi saat belajar Kimia,” terangnya.

Kecintaan Ni’mah terhadap mapel Kimia ini masih belum lama. Dia mengaku jatuh cinta pada Kimia saat kelas XI SMA. Hal itu tak lepas dari strategi yang diterapkan gurunya, Umi Laili, saat mengajar mapel Kimia dengan metode yang menyenangkan. Sehingga, mapel kimia yang terkesan berat itu justru jadi lebih ringan. Apalagi, guru ini juga dikenal penyabar, banyak bercanda, dan suka memberi semangat kepada siswa yang masih kesulitan memahami materi pelajaran.

”Pokoknya (guru mapel Kimia itu) hampir tidak pernah marah kalau ngajar,” tandas gadis yang tinggal di Perum Taman Embong Anyar, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, ini.

Selain karena gurunya penyabar, kecintaan Ni’mah terhadap mapel Kimia juga karena dia mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu Mahasegalanya. Dengan segala kuasa-Nya, Dia menciptakan benda-benda kecil dengan sangat detail dan terperinci. Hal itu membuat Ni’mah menyadari sesuatu. ”Saya jadi sadar bahwa Allah-lah yang paling kreatif,” imbuhnya.

Alasan lain yang membuat Ni’mah ngotot ingin menguasai mapel Kimia adalah persaingannya dengan temannya. Namanya Qodruary Zahra Azizah, salah satu siswi di sekolahnya sekaligus sahabatnya. Sahabatnya ini pula yang sering membuatnya terpacu dan berlomba untuk mendapatkan nilai yang bagus.

”Dia (Qodruary Zahra Azizah) juga cerdas dan pintar bersosialisasi,” puji anak pasangan Agus Fatoni dan almarhumah Masclachah itu kepada temannya.

Atas raihan nilai sempurna itu, Ni’mah berhak mendapatkan hadiah dari Pemerintah Kota Batu berupa studi banding ke Singapura. Hal itu melengkapi hadiah dari kepala sekolahnya, Farhadi, yang mengganjarnya dengan uang Rp 1 juta.

Ke depan, dia akan terus belajar ilmu Kimia. Dia pun sudah memutuskan kuliah Jurusan Kimia di Universitas Diponegoro Semarang tahun ini. ”Saya ingin jadi guru yang bisa kasih ilmu Kimia ke anak didik,” harapnya.

Pewarta: Dian Kristiana
Penyunting: Imam Nasrodin
Foto: Rubianto