Hati-hati, Kecanduan Main Game Bentuk Gangguan Jiwa

Hati-hati, Kecanduan Main Game Bentuk Gangguan Jiwa

Main game memang tidak masalah, sah-sah saja. Tapi bagaimana jika sudah kecanduan? Dalam keterangan tertulis, hellosehat, Senin (19/2), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini menggolongkan kecanduan main game sebagai gangguan mental.

WHO berencana menerbitkan buku panduan International Classification of Diseases (ICD-11) pada tahun 2018 dengan memasukkan kecanduan main game sebagai salah satu kategori gangguan jiwa baru, disebut sebagai gaming disorder (GD).

Gaming disorder diusulkan untuk dimasukkan di bawah kategori besar ‘Gangguan mental, perilaku, dan perkembangan saraf’, khususnya di bawah subkategori ‘Gangguan penyalahgunaan zat atau perilaku adiktif’.

Ini berarti pakar kesehatan di seluruh dunia menyetujui bahwa kecanduan main game dapat memiliki dampak yang menyerupai kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang.

Usulan ini dibuat karena melihat adanya bukti peningkatan pesat dalam kasus kecanduan game dari berbagai belahan dunia, yang juga disertai dengan permintaan rujukan terapi pengobatan di dokter.

Kecanduan main game ditandai dengan ketidakmampuan diri untuk mengendalikan hasrat bermain, sehingga susah dan atau tidak mampu untuk menghentikan perilaku tersebut. Hal itu terlepas dari segala upaya yang dilakukan untuk menghentikannya.

Lalu apa tanda dan gejala klasik dari kecanduan game? Cobalah cek anggota keluarga gejala-gejala seperti ini.

Durasi Main Game
Selalu menghabiskan waktu yang lama untuk bermain, bahkan durasinya makin meningkat dari hari ke hari.

Mudah Marah
Merasa mudah marah dan tersinggung saat dilarang atau diminta berhenti bermain game.

Terbayang Main Game Terus
Selalu berpikir tentang game tersebut ketika sedang mengerjakan aktivitas lainnya. Hilangnya kendali diri ini membuat pecandu game cenderung menomorsatukan permainan dalam hidupnya sehingga akan melakukan berbagai cara untuk dapat menuntaskan hasrat akan candunya, tak peduli atas konsekuensi dan risikonya.


(ika/JPC)