Hasilkan 40 Desain Eksklusif, Gudang Rumdin Jadi Butik

Istri Wali Kota Malang Widayati Sutiaji punya kesibukan baru. Dia bersama putri sulungnya, Almira Dea Davita, sedang menekuni menjadi desainer. Baju-baju karyanya di bawah brand Luxmiere termasuk eksklusif. Karena satu desain, hanya untuk satu baju.

ARLITA ULYA KUSUMA

Hampir di setiap acara yang dihadiri Widayati, desain baju yang dia pakai selalu berbeda. Beda acara, beda busana, dan keren. Ini yang membuat sejumlah orang penasaran dan bertanya-tanya beli di mana. Widayati pun buka suara jika kebanyakan busana yang dia pakai hasil karyanya sendiri.

Nah, karena banyak yang ingin membeli, maka dia mencoba menjajaki bisnis fashion dengan butik online-nya. Dia memilih desain yang berbeda di pasaran. Dan kebanyakan produk pakaian yang saat ini menjadi koleksi brand-nya adalah dress formal premium yang mengandung unsur etnik. ”Ciri khas dari Luxmiere adalah selalu ada batik dan kain lurik,” ungkap Widayati.

Inspirasi kerap kali dia dapatkan saat berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia. Dia juga menyempatkan waktu untuk hunting kain batik. Widayati tidak sendiri dalam menjalankan bisnisnya. Dia menjalankannya bersama putri sulungnya Almira Dea Davita dan 3 penjahit.

”Saya selalu menyampaikan ke anak-anak saya untuk tidak melihat orang tuanya sebagai wali kota dan pegawai. Saya ingin mengajarkan mereka bahwa dengan berkreasi lewat sesuatu yang kita gemari, akan tetap bisa menghasilkan,” tuturnya sembari tersenyum. Lebih lanjut dia menjelaskan, kecintaan Almira–anak sulungnya– dalam seni dan budaya memberi kemudahan tersendiri untuk bisnis tersebut.

Setahun berjalan, Luxmiere kini telah menghasilkan lebih dari 40 rancangan baju. Widayati menuturkan dia sengaja membuat setiap bajunya berbeda. ”Jadi, satu desain untuk satu baju saja,” ungkapnya.

Harga setiap baju pun beragam, yakni antara Rp 800 ribu–Rp 2 juta. Untuk publikasinya sendiri, dia memanfaatkan media sosial Instagram untuk memamerkan koleksinya. Karena belum memiliki butik, Widayati menyulap ruang gudang di Rumah Dinas Wali Kota Malang, Jl Ijen No 2, sebagai ruang penyimpanan koleksi pakaiannya.

Hal ini pula yang masih menjadi kendala baginya. ”Ini kan rumah dinas ya, tidak mungkin kami manfaatkan untuk kepentingan bisnis pribadi. Jadi, kami pakai gudang, kalau ada pembeli yang datang pun biasanya akan janjian dulu dengan kami,” tutur perempuan yang juga ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Malang ini.

Ke depannya, ibu tiga anak itu berharap bisa memiliki butik sendiri untuk mengembangkan bisnisnya tersebut. Di sisi lain, Almira menyampaikan ide memberikan nama Luxmiere adalah datang darinya. Yakni, dari kata Luxmiere yang berarti cahaya dari timur (bahasa Turki).

Alumnus Jurusan Seni Tari Universitas Negeri Malang (UM) itu mengaku memiliki kiblat fashion-nya tersendiri, yakni para desainer lokal yang mengusung tema serupa, yaitu pakaian etnik. Meski begitu, dia mengaku Luxmiere tetap memiliki ciri khasnya tersendiri.

Alasan lain mengusung batik untuk setiap rancangannya karena dia ingin mengenalkan batik lebih jauh lagi. ”Saya kan beberapa kali ke luar negeri dengan misi budaya. Selain Bali, yang selalu ditanyakan oleh orang luar negeri adalah batik,” tuturnya.

Selain memiliki jiwa seni, anak pertama tersebut mengaku senang berdagang sejak duduk di bangku sekolah dasar. ”Dulu saat SD saya sempat jualan jepit rambut, bahkan saat SMP saya pernah jualan layang-layang,” ujarnya sembari tersenyum.

Dia menambahkan, dengan proses tersebut dirinya berani membuka bisnis Luxmiere. Selain brand fashion Luxmiere, Almira juga sedang merintis usaha sebagai make-up artist (MUA) dan perancang gaun pengantin. Di tengah kesibukannya bekerja di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang, Almira hanya bisa melakoni bisnis menjadi MUA di akhir pekan.

Untuk perkembangan bisnisnya, dia berharap ke depannya Luxmiere bisa menambah koleksi model pakaian yang baru dan mengikuti trend fashion tiap tahun. Dia menambahkan untuk saat ini Luxmiere masih kesulitan dalam mengatur waktu karena belum ada jadwal pasti bagi para penjahit.

Dia juga berharap bisa membuka butik sendiri. ”Kalau di gudang kami tidak bisa leluasa karena pelanggan yang datang harus janjian dulu dengan kami, kalau di butik sendiri kan enak, pelanggan bisa datang kapan pun,” terang dia.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib