Hasil Panen Petani Pengaruhi Kenaikan Harga Cabai Sinergi Jawa Pos

Prihatini, salah seorang pedagang cabai Pasar Legi Songgolangit mengatakan, kenaikan harga cabai sudah mulai terasa sejak sepekan belakangan. Cabai rawit merah yang biasanya dijual Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilonya. 

Cabai hijau besar yang semula Rp 7 ribu naik angka Rp 12 ribu per kilo. Sementara merah besar, lanjutnya, meroket dari Rp 12 ribu menjadi Rp 18 per kilo. 

‘’Harga naik karena barang langka,’’ ungkap warga Kelurahan Mangkujayan itu.

Prihatini menuturkan, langkanya cabai di pasaran disebabkan minimnya hasil panen petani. Lantaran cabai merupakan salah satu bumbu wajib di dapur, permintaan bakal datang setiap hari. 

Dikatakannya, mau tidak mau harus mendatangkan cabai dari luar daerah. Pengepul, lanjut Prihatini, mesti ambil cabai hingga Kediri. 

‘’Harganya mahal, kualitasnya lebih bagus cabai dari Ponorogo,’’ ujarnya.

Ya, sepekan terakhir Prihatini beserta pedagang lain terpaksa menjual cabai kiriman dari luar daerah. Meski sebenarnya mereka diliputi rasa waswas, takut merugi. 

Sebab, selain harga kulak dari pengepul tinggi, cabai yang dibawa tidak bisa tahan lama. Dia mengungkapkan, cabai mudah berair kemudian membusuk jika dua hari tidak laku. 

‘’Beda dengan cabai asli Ponorogo, selama sepasar (lima hari) masih seger,’’ ungkap pedangan yang sudah memiliki lapak di Pasar Songgolangit sejak 1980 itu.

Alhasil, Prihatini mengurangi jumlah kulak cabai dari pengepul. Dengan alasan supaya tidak menanggung rugi banyak karena hubungan sebab akibat yang dipicu kelangkaan cabai di Ponorogo. 

Dia mangaku tidak tahu penyebab tidak adanya cabai. Namun, Prihatini mengharapkan pasokan cabai dari wilayah Ponorogo kembali normal. Selain kualitasnya yang lebih bagus ketimbang dari luar daerah, harganya juga enak di kantong. 

‘’Kalau normal, pedagang enak pembeli juga enak,’’ katanya. 

(mn/mg8/sib/sib/JPR)