Hasil Panen Jahe Emprit Kungkuk Diminati Pasar

KOTA BATU – Meski dari sisi ukuran kalah jauh dari jahe gajah, namun jahe emprit tetap punya pasarnya sendiri. Tak heran jika sebagian petani di Dusun Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, tetap menanam jahe emprit. Selain perawatan yang cukup mudah, hasilnya juga masih cukup menjanjikan.

Juwair, salah seorang petani Dusun Kungkuk menyatakan, sebagian warga memang memilih menanam jahe emprit. ”Tanah di sini sangat cocok untuk menanam jahe. Apalagi di musim kemarau yang masih ada hujannya, itu malah bikin tanah lebih subur,” bebernya di sela-sela panen kemarin. Dia menjelaskan, tanaman jahe umumnya bisa bagus saat ditanam di dataran tinggi. ”Ditanam di lahan kering saja sudah bagus untuk jahe yang baik. Apalagi jika ada hujan, malah semakin bagus,” tegasnya sambil membersihkan akar jahe.

Menurut Juwair, jenis jahe emprit memang tak seperti jahe pada umumnya. Selain karena pedasnya yang lebih terasa dibandingkan jahe gajah, banyak yang menjadikan jahe ini sebagai obat. ”Meski aroma jahenya kurang tajam, tapi rasanya lebih pedas,” tandas Juwair. Maka dari itu, jenis jahe ini banyak dicari, terutama untuk keperluan industri jamu.

Hanya saja, menunggu masa panen kembali  membutuhkan waktu yang relatif lama jika pemeliharaan dilakukan dalam tempo waktu yang tidak pasti. ”Bisa sampai lebih dari setahun. Tapi kalau perawatan dan pemeliharaan lahan rutin, jahe sudah bisa dipanen di usia 9 sampai 10 bulan,” tutupnya. Untuk tahun ini, harga jahe relatif stabil. Yakni pada kisaran harga Rp 4.000–Rp 6.000.

Pewarta: Octo Pratama
Penyunting: Ajmad Yani
Foto: Falahi Mubarok