Hasil dari NUN Minimal di PPDB 2018: SMAN Pinggiran Naik, SMAN Tugu Turun

Pendaftaran PPDB.

MALANG KOTA – Isu menurunnya Nilai Ujian Nasional (NUN) karena penerapan higher order thinking skills (HOTS), rupanya tidak begitu terbukti. Hal ini mengacu pada pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang daftar ulangnya sudah ditutup pada Sabtu (30/6).

Di SMAN 7 Kota Malang misalnya, tahun lalu, NUN minimal untuk masuk sekolah ini 206,50. Sedangkan tahun ini, NUN minimalnya 268,50. Dengan demikian, ada kenaikan nilai sebanyak 62. Untuk tahun depan, jika ingin masuk ke sekolah yang berada di Jalan Cengger Ayam, Kota Malang, ini calon siswa harus punya nilai 268,50. Lantaran, nilai minimal NUN tahun depan akan mengacu pada tahun sebelumnya.

Kenaikan juga terjadi di SMAN 2 Kota Malang. NUN minimal tahun lalu sebesar 268,50, sedangkan tahun ini, NUN minimalnya 282,00. Di SMAN 9 Kota Malang juga ikut naik, yang semula 285,00, kini naik menjadi 288,00.

Namun, SMAN kawasan Tugu justru memiliki NUN minimal yang cukup variatif di masing-masing SMA. Satu dari tiga SMAN favorit di Kota Malang tersebut mengalami penurunan NUN minimal, yakni SMAN 4. Tahun lalu, NUN minimal 322,00. Sedangkan tahun ini, NUN minimal sebesar 321,50.

Di SMAN 3 dan SMAN 1 Kota Malang, NUN minimal justru meningkat meskipun selisih tipis dari tahun lalu. Di SMAN 3, NUN minimal tahun lalu sebesar 336,00, sedangkan tahun ini naik menjadi 340,00. Untuk SMAN 1 Kota Malang juga mengalami kenaikan yang tipis. Tahun lalu 330,00 sekarang menjadi 338,00.

Untuk SMAN yang memiliki NUN minimal stagnan adalah SMAN 8, SMAN 5, dan SMAN 10. Tahun depan, untuk masuk ke kedua SMAN ini, siswa harus memiliki NUN minimal sebesar 304.50 untuk SMAN 8 dan 265.5 untuk SMAN 10, sedangkan untuk SMAN 5 sebesar 309.00.

Kepala sekolah SMAN 8 Anis Isrofin mengakui jika animo masyarakat kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. ”Sepertinya ada pergeseran animo. Orang tua dan siswa tidak terlalu berorientasi pada nilai akademis,” ucapnya.

Jika ada NUN siswa yang makin tinggi di beberapa sekolah, artinya siswa tidak keberatan bersekolah di mana pun. Meskipun beberapa siswa yang memiliki nilai tinggi mendapat rekomendasi untuk diterima di SMAN yang dia inginkan.

”Maka, itu bagus untuk sekolah. Artinya, pemerataan dari zonasi benar-benar terlihat hasilnya,” ujarnya.

Isrofin menjelaskan, naiknya NUN minimal untuk masuk beberapa SMAN memungkinkan adanya persaingan ketat yang terjadi.

”Ada baiknya, siswa yang duduk di bangku kelas 3 sudah mempersiapkan pembelajaran, karena tantangan ujian tahun depan kali ini meningkat,” tambahnya.

Memang, untuk tahun depan, ujian berbasis soal high order thinking skill (HOTS) atau soal-soal dengan tingkat kesulitan berstandar internasional akan tetap diterapkan.

”Makanya, siswa harus lebih berusaha lagi jika ingin lulus dan ingin masuk SMA di masing-masing zona,” imbuh perempuan yang juga kepsek SMAN 5 ini.

Dari jumlah pendaftar, SMAN yang dulunya tidak dianggap favorit turut naik tingkat. Pendaftar terbanyak sebagai pilihan pertama dipegang SMAN 4 dan SMAN 5 dengan jumlah masing-masing 536 pendaftar. Lalu, SMAN 9 dengan 518 pendaftar. Kemudian, SMAN 8 sebanyak 463 pendaftar.

Sistem zonasi atau sistem wilayah diberlakukan dengan mengutamakan aspek pemerataan nilai. Sistem ini mencakup beberapa kecamatan yang mengakomodasi 6 SMAN. Keenam SMAN ini juga diratakan, dari yang tidak dianggap favorit hingga SMAN favorit. Sehingga, satu kecamatan bisa merasakan semua SMAN, baik favorit maupun tidak. Namun, hasil seleksi pemeringkatan membuktikan bahwa kini animo masyarakat mengenai PPDB tidak melulu harus masuk ke SMAN yang dianggap favorit secara akademis.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Daviq Umar