Hari Terburuk dalam Sejarah Facebook

Data Sejuta Facebooker Bocor, Polri Sigi Perwakilan Facebook - JPNN.COM

jpnn.com, NEW YORK – Kamis (26/7) menjadi hari terburuk buat Facebook. Untuk kali pertama sejak melantai di bursa pada 2012, saham perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg itu terjun bebas dari USD 217 (setara Rp 3,12 juta) menjadi USD 174 (Rp 2,5 juta) per lembar.

Penurunan tersebut memangkas sekitar USD 119 miliar (setara Rp 1.713 triliun) atau 19 persen dari total nilai aset semula.

Para petinggi Facebook bukan tidak meramalkan fenomena tersebut. Namun, mereka tidak menyangka penurunan tersebut terjadi secepat itu dan dengan nilai sebesar itu.

Pada laporan keuangan semester II 2018, pendapatan Facebook memang turun. Itu membuat para pialang merekomendasikan klien mereka untuk melepas saham. Sebab, menurut mereka, fenomena tersebut tidak hanya berlaku sementara.

”Inilah bahaya rekomendasi. Jika melihat prediksi pialang untuk sisa tahun, investor pasti berpikir lagi soal insiden kebocoran data yang lalu,” ungkap Kepala Riset Teknologi GBH Insights Daniel Ives kepada Market Wacth.

Ya, skandal bocornya data pengguna kepada pihak ketiga memang membuat Facebook menuai kecaman. Apalagi, penyelidikan kasus tersebut masih bergulir.

Bersamaan dengan itu, angka pertumbuhan pengguna Facebook juga melambat. Khususnya di Eropa. Terkait dengan hal tersebut, Zuckerberg menyalahkan General Data Protection Regulation (GDPR), aturan baru Uni Eropa (UE).

Sejak triwulan pertama tahun ini, angka pengguna harian Facebook berkurang sebanyak 3 juta. ”Di Eropa, pengguna bulanan kami turun sebanyak 1 juta,” papar Zuckerberg.

Sumber : Jawa Pos