Harga Tarif Air, PDAM Kota Malang dan Kabupaten Sepakat Damai

Sejak Agustus 2017, hubungan antara PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota Malang dan Kabupaten Malang bersitegang.  Penyebabnya, adanya keputusan dari Pemkab Malang yang menaikkan tarif air (kini disebut biaya konservasi) yang disedot  PDAM Kota Malang dari Sumber Wendit, Pakis.

MALANG KOTA – Sejak Agustus 2017, hubungan antara PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota Malang dan Kabupaten Malang bersitegang.  Penyebabnya, adanya keputusan dari Pemkab Malang yang menaikkan tarif air (kini disebut biaya konservasi) yang disedot  PDAM Kota Malang dari Sumber Wendit, Pakis. Awalnya tarif air sebesar Rp 80 per meter kubik, lalu dinaikkan menjadi Rp 610. Naiknya hampir 800 persen.

Akibat dari kenaikan tarif ini, PDAM Kota Malang mencak-mencak. Sebab, merasa harga baru yang dipatok pemkab tersebut kemahalan. Padahal, versi PDAM Kota Malang, kenaikan harga yang paling rasional sebesar Rp 120 per meter kubik.

Upaya negosiasi kedua instansi itu buntu. Pemkab Malang menilai, sejak 2002 silam, PDAM Kota Malang untung besar dari mengambil air di Sumber Wendit. Sebab, beli air hanya Rp 80 per meter kubik, tapi jual ke pelanggan hingga Rp 3.000.

Dengan jumlah pelanggan 77.397 orang, pendapatan yang diraup PDAM Kota Malang sekitar Rp 4,6 miliar per bulan (asumsinya per pelanggan rata-rata memakai 20 meter kubik per bulan). Jadi, pendapatan PDAM Kota Malang setiap tahun mencapai Rp 55,7 miliar.

Sementara yang disetorkan ke Pemkab Malang hanya Rp 1 miliar per tahun. Sebaliknya, PDAM Kota Malang beralasan menolak ada kenaikan tarif air yang tinggi. Karena biaya operasional juga tinggi. Kalau ada kenaikan, risikonya perusahaan air minum merugi atau pelanggan yang harus menjadi korban.



Karena tidak ada titik temu, keduanya minta ”fatwa” ke Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri) dan Kemen PUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Singkat cerita, Kemendagri dan Kemen PUPR membentuk tim ”wasit” untuk menengahi polemik tarif air tersebut. Ditunjuklah Perum Jasa Tirta untuk menghitung berapa sebenarnya tarif air yang ideal dari Sumber Wendit.

Nah, kemarin (21/12), di ruang rapat wali Kota Malang, sejumlah pihak terkait air PDAM ini melakukan pertemuan. Hadir di antaranya, Sekkota (Sekretaris Daerah Kota) Malang Wasto, jajaran direksi PDAM Kota Malang, dan Direktur PDAM Kabupaten Malang Syamsul Hadi. Sedangkan dari Kementerian hadir Kasubdit Kelembagaan SDA (Sumber Daya Air) Kemen PUPR Triyono Tulus S. serta dari Perum Jasa Tirta.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim Drs Benny Sampir Wanto memimpin mediasi yang mulai berlangsung pukul 11.00–14.00 tersebut.

Lantas, apa hasil pertemuan itu? Direktur PDAM Kab Malang Syamsul Hadi menjelaskan, ada tiga opsi yang ditawarkan Perum Jasa Tirta selaku tim penghitung harga tarif air. ”Tadi (kemarin) hitung-hitungannya ada Rp 133, Rp 107, dan Rp 120 per meter kubik,” kata Syamsul kemarin siang.

”Penghitungan angka itu diambil beberapa komponen konservasi,” imbuh dia.

Dari tiga opsi ini, dia menyatakan ingin melaporkan dulu ke Bupati Malang Rendra Kresna. Rendra akan memilih tiga opsi mengenai biaya konservasi tadi. ”Hasil ini akan segera kami laporkan ke pimpinan,” tutupnya. (asa/c2/abm)