Hanya Pakai Sensor, Bisa Pilah Apel yang Masak dan Tidak

Lahan kebun apel di Desa Sidomulyo, Kota Batu, ini selalu dikunjungi wisatawan untuk wisata petik apel.

Davit Adi Cahyono paham betul apa yang dibutuhkan masyarakat di Malang. Nama inovasi buatan alumnus Universitas Negeri Malang (UM) ini adalah Dipsmart atau Digital Image Processing Short Maturity. Alat ini berfungsi sebagai pemilah otomatis buah apel antara yang masak dengan yang tidak.

Alat itu terdiri dari konveyor yang kemudian terhubung dengan sensor kemera. Nah, sensor kamera inilah yang nantinya menangkap gambar dari apel-apel yang menggelinding di atas konveyor itu. Kemudian, alat ini akan mengirimkan sinyal ke sistem yang menentukan apakah sebuah apel tersebut layak atau tidak.
Selanjutnya, sinyal tersebut dikirim ke sebuah palang yang bakal memilah apel tersebut.

Berkat inovasinya itu, pria yang akrab disapa Davit ini meraih juara 2 di ajang Lomba Inovasi Teknologi (Inotek) Kota Malang yang digeber sejak Maret hingga Juni lalu. Karyanya juga dipamerkan pada ajang Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) beberapa waktu lalu. Dia menceritakan, yang menjadi latar belakang memilih apel adalah karena Malang terkenal dengan apelnya.

”Memang saya ingin mengangkat ikon Malang (apel). Kemudian, saya padukan dengan teknologi,” kata Davit, Rabu lalu (8/11).


Ada banyak kesulitan dan tantangan yang dihadapinya untuk menyelesaikan sebuah karya inovasi tersebut. ”Yang paling susah adalah menyinkronkan kecepatan konveyor dengan kecepatan frame per second (FPS) sensor kamera,” beber pria yang baru meyelesaikan program D-3 Teknik Elektro-nya itu.

Dia menjelaskan, untuk memadukan kecepatan tersebut awalnya dirinya menggunakan cara manual dengan mencoba satu per satu kecepatan agar sesuai yang diinginkan. ”Akhirya, lama-lama saya menemukan dan mendalami rumus yang sesuai,” tambah alumnus SMAN 1 Ngantang itu.

Dia mengungkapkan, pengerjaan programming serta pembuatan alat tersebut memakan waktu kurang lebih selama 6 bulan.

”Mungkin untuk riset, pembuatan program, dan pembuatan alat, memakan waktu 3 bulan,” beber Davit. Dia menambahkan, yang paling banyak memakan waktu justru pada pembuatan laporan dari kegiatan tersebut, yakni selama 3 bulan.

”Penulisan juga lama, karena perlu adanya konsultasi,” imbuh anak kedua dari dua bersaudara itu.

Maklum saja, karya inovasi tersebut merupakan tugas akhirnya sebagai syarat memperoleh gelar diploma.
Semangatnya membuat inovasi tidak kendur, bahkan setelah lulus kuliah, dia terjun di dunia pekerjaan yang menciptakan teknologi-teknologi inovasi di PT Maxzer Solusi Steril di daerah Ciliwung, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang. Di sana, dia membantu mengembangkan alat untuk mensterilkan susu dari aliran listrik.

”Jadi, nanti listrik diinjeksi dengan listrik. Ini dilakukan agar bakteri yang terdapat dalam kandungan susu bisa mati,” imbuh pria kelahiran Malang, 22 tahun silam ini.

Selain itu, ke depan dia juga mengungkapkan masih banyak ide-ide yang ingin dituangkan pada alat-alat hasil inovasinya.

”Kalau ide sebenarnya banyak. Hanya modal yang belum ada,” beber alumnus SDN 1 Jombok, Ngantang itu. Dia menjelaskan, salah satu ide yang ingin dia kembangkan adalah pada bidang agrobisnis.

”Saya sedang mengembangkan hidroponik automation. Jadi, bertanam tumbuhan secara hidroponik, tapi ini otomatis,” terangnya.

Dia menjelaskan, mulai pembibitan, nantinya tanaman tersebut secara otomatis bergeser ke lahan yang sesuai dengan usia perkembangan tanaman tersebut. Selain itu, dia menjelaskan bahwa nantinya penyiraman maupun pemanenan juga dilakukan secara otomatis.

”Sekarang lagi saya lakukan riset,” urainya. Dia berharap, ada yang memodali ide-idenya agar dia lebih terdorong untuk berkreasi dan menciptakan inovasi-inovasi lainnya.

”Saya juga berharap jika Malang memiliki wadah khusus bagi para pengembang riset, baik untuk mahasiswa maupun umum,” tandas pemuda kelahiran 7 Desember 1994 itu. Dia menjelaskan, dengan adanya hal itu, maka kemudahan untuk mendapatkan data riset-riset dan saling tukar informasi juga bisa tercipta.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Darmono