Hanya Habis Rp 2 Jutaan, Ubah CO2 Jadi Oksigen

Banyak hasil penemuan dan inovasi justru lahir dari ketidaksengajaan saat melakukan eksperimen.

Termasuk alat pendeteksi polusi sekaligus penghasil oksigen yang diciptakan Tim Api Siwa Universitas Brawijaya (UB) ini. Seperti apa ceritanya?

 

MIFTAHUL HUDA

Beberapa lembar kertas sengaja dibakar di depan filter alat yang diberi nama Api Siwa (Air Pollution Information System Integrated with Air Filtering, Internet of Things, and Renewable Energy) di halaman Fakultas Teknik UB pekan lalu. Ketua tim I Wayan Angga Jayadiyuda ingin menunjukkan cara kerja alat yang dibuat bersama empat anggota timnya.



Begitu kertas dibakar, dua unit kipas langsung berputar saat alat tersebut dijalankan. Wayan–sapaan akrabnya– lantas mengeluarkan smartphone dan menunjukkan aplikasinya.

Sepintas, alat buatan timnya itu mirip gardu listrik mini. Di bagian atasnya, terdapat papan panel surya berukuran panjang 35 cm dan lebar sekitar 60 cm.

”Nah, sekarang tinggal melihat di HP (handphone, Red), ini ada keterangan berapa tingkat polusi yang dideteksi alat kami,” ujarnya.

Tak hanya menunjukkan tingkat polusi dengan angka statis, Wayan juga mengamati pergerakan polusi yang dideteksi alatnya dan disajikan di layar handphone-nya.

Detektor polusi udara tersebut diciptakan Wayan bersama Muhammad Khuzain yang sama-sama dari Fakultas Teknik UB. Sedangkan tiga anggota tim Api Siwa lainnya adalah Hafidh Hidayat, Naila El Arisie, dan Allysa Apsarini Shahfah dari fakultas ilmu komputer.

Mereka mengklaim alat yang dibikin sangat efisien dan tidak berasal dari energi listrik. ”Alat ini benar-benar tidak meninggalkan limbah apa pun dan tidak menghasilkan polusi apa pun,” kata dia.

Untuk sumber daya, Wayan menyatakan dihasilkan dari panel surya. Sedangkan untuk mengolah karbon dioksida atau CO2 yang dihasilkan dari asap knalpot, pabrik pembakaran sampah, dan penyebab polusi lainnya, mereka menggunakan pasir atau bubuk zeolite ramah lingkungan.

Mahasiswa asli Bali ini lantas menjelaskan cara kerja alat kreasi timnya. Dia menyatakan, begitu Api Siwa mendeteksi CO2, secara otomatis CO2 diserap bubuk zeolite.

”Bubuk ini putih, juga tidak ada kandungan yang membahayakan. Setelah diserap, zeolite mengubah CO2 dan jadi oksigen,” kata Wayan sambil menunjukkan saluran pengeluaran oksigen di belakang alat.

Wayan menyebut, alat tersebut bisa mendeteksi polusi dengan radius sekitar 3 km. Namun untuk polusi yang bisa ditangkap alat ini, seharusnya dengan kadar di atas 600 rotation per minute (rpm). ”Karena yang di atas 600 rpm ini yang sebetulnya bahaya,” kata dia lagi.

Wayan bercerita, dibutuhkan waktu enam bulan dari mulai ide pembuatan alat tersebut hingga bisa diwujudkan. Mahasiswa angkatan 2016 ini mengakui, ada sejumlah kendala saat mengerjakan project yang menghabiskan dana sekitar Rp 2 jutaan itu.

”Apalagi konsep kami, alat ini dibuat model portabel sehingga diharapkan bisa dikembangkan skala industri,” ujarnya.

Awalnya, mereka hanya berusaha mengembangkan alat penghasil oksigen saja. Lalu, tiba-tiba di tengah perjalanan, dia dan kawan satu FT-nya bertemu anak filkom. Rencana kala itu, sebisa mungkin alat ini bisa memantau pergerakan polusi udara.

”Kalau di Riau atau daerah polusi tertinggi hanya ada papan pendeteksi polusi dan berupa papan peringatan. Kami ingin lebih, setidaknya benar-benar ada manfaat double,” tambahnya.

Makanya, selama enam bulan Api Siwa dibuat terintegrasi dengan aplikasi berbasis Android. ”Jadi, dalam aplikasi ada statistik pencemaran udara, info kesehatan, dan pantauan polusi udara dilakukan setiap detik.

Masyarakat bisa mendapat info akurat apakah lingkungan mereka polusinya tinggi atau tidak,” kata Wayan.

Hebatnya, mereka juga telah memiliki desain alat, mulai dari tingkat perumahan, gang, kampung, hingga skala industri besar. ”Kalau skala industri ya susahnya panel suryanya harus ada banyak.

Tapi rancangan kami, justru alatnya ukurannya sama, tapi kira-kira dibutuhkan lebih dari dua buah. Bergantung luas pabrik,” kata dia. Bahkan, kalau mau alat ini akan efektif ditempatkan di lampu merah atau traffic light.

”Dulu sudah pernah mencoba di sekitaran UB. Ya kalau mau sejuk memang alatnya harus banyak atau kapasitasnya besar,” sambungnya dengan terkekeh.

Apakah akan mencoba kerja sama dengan pemerintah? Wayan menyatakan, itu bisa saja diupayakan. Namun saat ini, dia dan tim hendak menyempurnakan alat dan menghitung estimasi biayanya. Jadi, fungsinya tetap maksimal, tapi biaya produksinya bisa ditekan.

Malah dia ingin dari alat yang dibuat timnya Malang Raya bisa kembali hijau. ”Tapi, tidak mengganti fungsi pohon seutuhnya. Ini hanya solusi cepat jika dibutuhkan di ruang yang sempit,” katanya.

Naila, salah satu anggota yang sering menjadi jubir bagi timnya, menambahkan, selain terintegrasi dengan aplikasi Android, keberadaan zeolite yang sudah kedaluwarsa menyerap CO2 juga bisa dimanfaatkan menjadi briket. ”Dari literatur yang ada, bisa menjadi briket.

Makanya kami memilih zeolite sebagai filter polusi karena selain murah, juga bahan dasarnya ramah lingkungan,” jelasnya. Tapi, hingga kini belum ada percobaan mengolah zeolite menjadi briket. ”Ya, ini menjadi tantangan kami,” jelas dia.

Meski tak mendaftarkan alat mereka melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) seperti penemuan mahasiswa lainnya, mereka telah meraih kejuaraan di tingkat internasional.

Tercatat, ada silver medal pada ajang Japan Design, Idea, and Invention Expo 2019 pada 15–17 Juni di Tokyo Bay Ariake Hotel, Jepang. Event bergengsi itu diselenggarakan World Invention Intellectual Property Associations dan Chizal Corporation (WIIPA).

Selain itu, di acara Young Scientist and Invention yang digelar UB, alat kreasi mereka juga mendapatkan gold medal.  ”Kalau masukan dari juri, palingan perbaikan alat sedikit saja. Mereka malah tertarik bisa dibuatkan untuk negara lain apa tidak,” pungkas Naila.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani