Hanya di Filipina, Presiden Pamerkan Pembunuhan Jadi Prestasi

Hanya di Filipina, Presiden Pamerkan Pembunuhan Jadi Prestasi

Dalam sebuah pidato di hadapan Senat Filipina pada Rabu, (21/2), Senator Antonio Trillanes mengatakan, dalam laporan administrasi menyebutkan 3.967 toko obat telah ditutup setelah dituduh menolak melakukan penangkapan selama operasi polisi antara 1 Juli 2016 dan 27 November 2017.

Laporan tersebut juga menyebutkan 118.287 terdakwa narkoba telah ditangkap, dan 1.308.078 orang lainnya menyerahkan diri kepada pihak berwenang pada periode yang sama.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte
(Macau Business)

Berdasarkan laporan pemerintah, ini berarti jumlah kematian yang sebenarnya terkait dengan perang narkoba setidaknya 20.322.

“Oleh karena itu, semua kematian ini berhubungan dengan narkoba dan bukan untuk penyebab lain. Itu jelas. Sementara negara terus menertawakan lelucon cabul Duterte, lebih dari 20 ribu warga negara kita terbunuh,’’Kata Trillanes.



Trillanes mengatakan, hanya di Filipina seorang presiden memamerkan pembunuhan sebagai sebuah prestasi. “Mereka pada dasarnya mengakui tidak ada yang disebut pembunuhan main hakim sendiri, bahwa kematian ini sebenarnya merupakan eksekusi yang disponsori negara.”

Duterte dan polisinya telah membunuh semua orang yang tewas dalam operasi yang dilakukan polisi.

Menanggapi pidato Trillanes, Senator Manny Pacquiao, seorang legislator pro-Duterte mengatakan, koleganya membuat kesimpulan prematur ketika pembunuhan tersebut masih diselidiki oleh pemerintah.

Trillanes, mantan perwira militer, telah menjadi salah satu kritikus terdepan Duterte sejak kampanye presiden 2016.


(ina/JPC)