Hanura, PAN, dan PPP Lobi Koalisi Rawon Nguling

MALANG KOTA – Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC PPP) Kota Malang melakukan manuver yang bisa dibilang cukup mengejutkan kemarin (24/11). Sebab, partai yang santer dikabarkan akan mengusung Wakil Wali Kota Malang Sutiaji dalam Pilwali 2018 itu berbalik arah justru akan mengusung Ya’qud Ananda Gudban. Alasannya, Sutiaji dinilai kurang serius saat mendaftar dalam penjaringan bakal calon wali kota (bacawali) di PPP.

”Kami ingin yang pasti-pasti saja. Keputusan ini baru dibuat di rapat pleno pengurus cabang tadi malam (Kamis malam, 23/11),” kata Ketua DPC PPP Kota Malang Heri Pudji Utami setelah konferensi pers pernyataan mengusung Nanda–sapaan akrab Ya’qud Ananda Gudban–di Pilwali 2018, di kediamannya, Jalan Veteran, kemarin.

Seperti diketahui, Sutiaji sebenarnya dinyatakan lolos dalam penjaringan bakal calon wali Kota Malang dari PPP pada Minggu lalu (12/11). Sebab, dia dianggap memenuhi semua administrasi dan kriteria PPP.

Selain itu, pesaing beratnya, Ya’qud Ananda Gudban, juga menyatakan mundur sehari sebelum penyampaian visi-misinya. Jadi, PPP menyatakan lolos dan mendukung Sutiaji dalam rapat pimpinan penjaringan tersebut. Bahkan, beberapa hari yang lalu, pengurus PPP juga sudah menyatakan bahwa berkas dukungan Sutiaji sudah dikirimkan ke DPP PPP untuk menurunkan rekomendasi.

Namun sepertinya, DPC PPP Kota Malang menilai Sutiaji kurang serius. Jadi, Kamis lalu (23/11) PPP melakukan rapat pleno dan menentukan untuk mengusung Nanda sebagai bacawali.



Maka dengan merapat ke PPP, Nanda bisa melenggang untuk maju di Pilwali 2018. Sebab, sudah memenuhi syarat dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang minimal harus memiliki 9 kursi di parlemen jika ingin mengusung paslonnya. Karena Nanda sudah didukung Partai Hanura yang memiliki 3 kursi, PAN (4 kursi), dan PPP (3 kursi). Totalnya, ada 10 kursi. Jumlah ini sudah melebihi syarat minimal untuk mengusung pasangan bacawali-bacawawali yang syarat minimalnya memiliki 9 kursi. Dengan demikian, bisa dikatakan jalan Nanda untuk diusung sebagai bacawali di Pilwali 2018 seperti jalan tol.

Bunda HP–sapaan akrab Heri Pudji Utami–juga menambahkan, pihaknya menganggap Sutiaji dalam mengikuti penjaringan bacawali di PPP kurang serius. Salah satunya karena sulitnya berkomunikasi dengan PPP.

Apakah manuver ini sebagai strategi PPP saja? Bunda HP menyatakan, itu adalah keputusan pengurus DPC PPP yang memang ingin mengusung Nanda.

Selain itu, Bunda HP menyatakan, Sutiaji dianggap tidak mau melengkapi berkas penjaringan yang masih kurang. Namun, Bunda HP masih enggan menjelaskan apa berkas yang belum lengkap tersebut.

”Ini ada apa (sulit berkomunikasi dengan Sutiaji)? Kami berpikir setengah-setengah. Makanya memutuskan mendukung Mbak Nanda saja,” ungkap perempuan yang juga menjadi anggota DPRD ini.

Hanya, masih kata dia, pihaknya mengakui bahwa ketokohan Sutiaji relatif kuat. Terutama di tingkat bawah. Namun, pihaknya kemarin sudah menyatakan sikap untuk lebih memilih Nanda. Sikap PPP ini juga mengakibatkan peluang Sutiaji maju Pilwali 2018 lewat PPP masih nyantol.

”Kami ingin ada Srikandi Ken Dedes yang memimpin Kota Malang. Mbak Nanda bisa menjawab ini,” tandasnya.

Namun, dia melanjutkan, PPP juga masih membuka peluang untuk Sutiaji. Namun, bukan untuk N1 (sebutan wali kota), tapi N2 (wakil wali kota). Tawaran ini berlaku jika Sutiaji setuju untuk menjadi bakal orang nomor dua lagi untuk mendampingi Nanda.

Lalu, siapa yang bakal dipasangkan dengan Nanda di koalisi tersebut? Bunda HP menyerahkan semua kepada partai koalisi untuk pendamping Nanda. Caranya, bisa masing-masing partai mengusulkan nama untuk bakal calon wakil wali kota (bacawawali)-nya.

Namun, dia juga tidak menolak jika harus mendampingi Nanda. Sebab jika sudah perintah DPP, Bunda HP akan melakukannya. ”Awalnya saya ada (kemauan), tapi setelah dipikir-pikir lebih baik nggak. Namun, kalau sudah perintah partai, sebagai kader saya harus siap,” imbuhnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga bakal segera memproses rekomendasi dari pusat untuk pengusungan Nanda sebagai bacawali. Jadi, pada awal Desember 2017, rekomendasinya sudah bisa turun.

Langkah berikutnya, koalisi Partai Hanura, PAN, dan PPP juga bakal mengundang poros ”Rawon Nguling” untuk berkomunikasi. Perlu diketahui, poros Rawong Nguling ini terdiri dari non-PKB dan PDIP yang mengadakan pertemuan di rumah makan Rawon Nguling yang diprakarsai Gerindra.

”Rencananya, awal Desember 2017 kami bertemu. Tempatnya nanti menyusul,” ungkap dia.

Sementara itu, Sutiaji mengaku tidak mempersoalkan kebijakan yang diambil DPC PPP Kota Malang. Pihaknya menilai bahwa itu haknya partai. ”Nggak apa-apa, itu hak mereka (PPP). Saya menyerahkan kepada partai,” kata mantan anggota dewan itu saat dikonfirmasi kemarin.

Hanya, Sutiaji membantah jika dia dianggap tidak serius untuk mengikuti penjaringan bacawali di PPP. Sebab, dia menilai bahwa semua tahapan sudah diikuti sesuai aturan. ”Siapa yang nggak serius? Ya, saya seriuslah,” ungkapnya.

Namun, Sutiaji melanjutkan, dia memang tidak ingin jika menjadi orang nomor dua lagi di Pilwali 2018. Artinya, jika PPP ingin memasangkan Sutiaji sebagai N2, dia tidak mau. Karena tetap ingin menjadi bacawali, bukan bakal calon wakil wali kota.

”Prinsip saya, besok harus lebih baik daripada hari ini,” ungkapnya. Yang mana saat ini dia sudah menjadi N2, maka ke depannya harus lebih baik sehingga menjadi N1.

Soal dirinya tak memiliki partai, Sutiaji juga mencontohkan beberapa tokoh yang tidak punya partai, tapi bisa menjadi pemimpin. Seperti Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

”Ada beberapa tokoh yang nggak punya partai, tapi bisa menjadi pemimpin,” terang dia.

Selain itu, dia menyebut Gus Ipul (Saifullah Yusuf) yang juga tidak memiliki partai, tapi juga berhasil menjadi wakil gubernur (wagub) Jawa Timur.

Jadi, meski tidak memiliki kendaraan partai, tidak membuat Sutiaji ciut nyali untuk maju dalam Pilwali Kota Malang pada 2018.

Lalu, apa tanggapan Nanda soal pendampingnya di Pilwali 2018? Dia mengaku tidak ingin buru-buru membahas siapa yang bakal mendampinginya di Pilwali 2018. Karena fokusnya saat ini adalah pencalonan dirinya sebagai bakal calon wali kota.

”Masih belum ke situ. Masih fokus N1 dulu. Itu nanti akan dibicarakan lagi,” ungkapnya.

Terkait isu Aji, alias Ananda-Sutiaji, Nanda juga masih enggan berkomentar. Namun, dia menegaskan bahwa tetap ingin menjadi yang pertama. Sebab, dia sudah memiliki cukup kendaraan dengan bergabungnya PPP kemarin. ”Sejak awal saya tidak memungkiri bahwa akan maju sebagai N1,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Kota Malang Dito Arief menyatakan, pihaknya menyambut baik bergabungnya PPP kemarin. Sebab, harapan Partai Hanura-PAN mengusung Nanda bisa segera terwujud.

”Ini bagus. Nanti siapa yang bakal mendampingi, akan kami bicarakan dengan partai koalisi. Bisa dari birokrat, dari kalangan pesantren, maupun tokoh muda,” ujarnya.

Harapannya, rekomendasi resminya bisa turun dan kerja sama tersebut bisa terwujud awal Desember 2017. Jadi, pihaknya juga bakal segera menyelesaikan berkas kelengkapan resminya. ”Harapannya secepatnya bisa diikat karena lebih cepat itu lebih baik,” terangnya.

Pewarta: Imam Nasrodin
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Imam Nasrodin