Hampir Tiap Bulan, Satu Remaja Meninggal karena Bunuh Diri

Sepanjang 2018, aparat kepolisian mencatat ada 25 orang meninggal dunia akibat bunuh diri. Sekitar 32 persen atau 9 orang di antaranya dari generasi milenial. Jika dirata-rata, hampir setiap bulan ada satu remaja yang nekat mengakhiri hidupnya. Apa yang membuat generasi milenial gampang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?

AKHIR Mei 2018 lalu, seorang remaja berusia 23 tahun nekat terjun dari ketinggian 70 meter. Pemuda asal Sawojajar itu melompat dari Jembatan Lembah Dieng diduga karena ada masalah dengan keluarganya. Kondisi remaja yang belakangan diketahui bernama Oki itu sempat kritis, tapi meninggal sebelum dibawa ke rumah sakit (RS).

”Itu (bunuh diri) karena ada masalah dengan keluarga,” ujar Ipda Subandi, Kanit Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polres Malang Kota yang saat itu ikut mengevakuasi korban.

Nekat mengakhiri hidup karena tidak kuat menghadapi masalah itu tidak hanya dialami Oki. Polres di Malang Raya mencatat, sepanjang 2018 ini terdapat 25 kasus bunuh diri. Sembilan kasus di antaranya dilakukan remaja.

Polres Malang Kota (Makota) misalnya, menerima laporan 9 kasus bunuh diri. Satu di antaranya dilakukan generasi milenial. Polres Batu menerima satu laporan kasus bunuh diri dan dilakukan pemuda. Sedangkan Polres Malang menduduki peringkat tertinggi di antara dua polres lain, yakni 15 kasus bunuh diri. Tujuh di antaranya dilakukan remaja.



Subandi memaparkan, ada beberapa cara orang mengakhiri hidupnya. Misalnya, menabrakkan diri saat kereta melaju kencang, gantung diri, meminum racun, menceburkan diri ke sumur, hingga terjun dari ketinggian.

”Dari rangkuman olah tempat kejadian perkara (TKP), banyak motif yang membuat mereka memilih bunuh diri,” imbuhnya.

Mulai dari masalah cinta, masalah keluarga, mempunyai penyakit yang tak kunjung sembuh. Bunuh diri karena sakit menahun biasanya dialami orang tua. Sedangkan anak muda dipicu faktor asmara dan masalah keluarga.

”Rata-rata mereka yang melakukan bunuh diri, orangnya tertutup. Tidak banyak yang tahu keluh kesahnya, tiba-tiba sudah gantung diri,” tambahnya.

Sementara di Kota Batu, Kaurmintu Satreskrim Polres Batu Bripka As’ad menyatakan, satu kasus bunuh diri di wilayahnya masih tentatif. ”Kronologinya korban loncat dari Jembatan Kali Lanang,” jelas As’ad.

Dia menceritakan, pada 2017 lalu ada remaja berusia sekitar 19 tahun mengakhiri hidupnya karena masalah percintaan. ”Setelah diselidiki melalui ponsel korban, dipastikan bunuh diri karena putus dengan kekasihnya,” ucapnya.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda mengungkapkan penyebab kasus bunuh diri. Mayoritas penyebabnya karena depresi. Misalnya depresi karena terimpit masalah ekonomi hingga persoalan lain. ”Tujuh puluh persen itu karena depresi,” terang dia.

Menurut dia, angka kasus bunuh diri di Kabupaten Malang tergolong tinggi. Untuk itu, dia berharap masyarakat turut berperan aktif untuk meminimalisasinya. ”Di sini peran orang-orang terdekat sangat penting karena keluargalah yang lebih tahu permasalahan korban,” imbuhnya.

Harapan serupa juga disampaikan KBO Satreskrim Polres Malang Iptu Rudi Kiswoyo. ”Ini penting diperhatikan karena jika dirata-rata, tiap bulan selalu ada kasus bunuh diri,” terang dia.

Selama 12 bulan berjalan pada 2018, bulan Juli tercatat menjadi periode terbanyak kasus bunuh diri. Total ada lima kasus yang tercatat oleh polisi. ”Cara bunuh dirinya memang bermacam-macam. Salah satunya gantung diri. Di tahun 2018 total kasus yang ditangani Polres Malang ada 12 kasus gantung diri, tiga sisanya ada yang menceburkan ke sumur dan menabrakkan diri ke kereta,” tambah Rudi.

Dari rentetan kasus tersebut, ada kejadian yang cukup nahas pada awal tahun yang menimpa Indah Istining Wahyuni, 25, warga Desa Tawang Rejeni, Kecamatan Turen. Sebelum mengakhiri hidupnya pada Januari 2018 lalu, Indah sempat mencurahkan isi hatinya kepada salah satu temannya yang berinisial AA. Hal itu terungkap dari beberapa percakapan di aplikasi WhatsApp (WA).

(msa/jaf/mh/and/c2/dan)