dr Roosy Margaretha Berbagi Pengalaman Menjadi Dokter Satwa Batu Secret Zoo

Hamil Muda, Sendirian Operasi Bison hingga 3 Jam

Menjaga kondisi hewan yang menjadi koleksi kebun binatang membutuhkan kecakapan dan keahlian khusus.  Apalagi, rata-rata hewan tersebut awalnya berasal dari alam liar.

Tugas itulah yang diemban dr Roosy Margaretha, salah seorang dokter hewan di Batu Secret Zoo.

Tak hanya dituntut piawai mengobati hewan yang sakit, Roosy juga harus memahami perilaku satwa. Karena hal itu juga menjadi bekal untuk mengatasi setiap masalah yang muncul pada hewan.

”Harus belajar kebiasaan satwa di alam liar seperti apa. Jadi, saat penanganan tidak bisa semaunya saja, tapi tetap disesuaikan dengan individu tiap satwa,” ungkap dokter yang telah tiga tahun bergelut dengan satwa liar koleksi Batu Secret Zoo ini.

Bersama tiga dokter lainnya, alumni Jurusan Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya, ini bertanggung jawab penuh atas kesehatan hewan di bawah observasi Jatim Park 2.

Roosy mengungkapkan, menjadi dokter hewan liar mempunyai tantangan tersendiri. Dari sisi perilaku, hewan-hewan tersebut berbeda dengan hewan peliharaan pada umumnya.

”Menjadi dokter hewan di kebun binatang itu juga lebih ditekankan pada pencegahan penyakit daripada mengobati,” terangnya.

Jam terbangnya dalam menangani kesehatan satwa liar sempat diuji saat Roosy berada dalam kondisi yang tidak tepat. Dia menceritakan, saat itu ada bison betina yang mengalami masalah. Padahal, saat itu dia sedang stand by sendiri.

”Iya, waktu itu dokter hewan yang lain sedang tidak bertugas. Tiba-tiba ada info bison betina yang mengalami prolaps uterus (bagian uterus hewan keluar),” jelasnya.

Dari kondisinya, hewan tersebut harus operasi saat itu juga. Jaringannya akan rusak dan mati kalau dibiarkan terlalu lama. Kebetulan, saat itu Roosy tengah hamil muda, sehingga dia harus ekstra hati-hati dalam menjalankan tugasnya. Dengan bantuan para keeper, Roosy dibantu untuk menenangkan hewan tersebut dengan bius tulup agar bisa melakukan operasi secepat mungkin.

”Metode bius tulup dipakai, karena tidak ada pagar penjepit untuk menenangkan bison,” ujar wanita berkacamata ini.

Lewat operasi yang berlangsung sekitar tiga jam, dokter wanita asal Jakarta Pusat ini pun mampu mengatasi penyakit bison dengan baik.

”Kandunganku sempat agak ngeflek, soalnya kan hamil muda. Harusnya jangan sampai terlalu capek. Tapi syukur tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Dari pengalamannya tersebut, ibu satu anak ini semakin mantap dan konsisten dengan profesinya sebagai dokter satwa liar. Ke depan, Roosy berkeinginan untuk bisa melanjutkan sekolah lagi.

”Saya ingin mendalami surgery bidang soft tissue atau operasi jaringan lunak,” tandasnya.

Pewarta: Octo Pratama
Penyunting: Ahmad Yani
Foto: Dokumentasi Pribadi