Hadir di Festival Buku Patjar Merah, Seno Gumira Ajidarma: Tulisan Jurnalistik Bisa ‘Hidup’ dengan Sastra

KOTA MALANG – Wartawan sekaligus Sastrawan Seno Gumira Ajidarma menyebut tulisan jurnalistik bukan hanya sekadar kata-kata yang menginformasikan peristiwa atau fenomena.

“Jangan hanya menulis informasi saja kayak 15 orang mati karena perang di pantai. Itu tulisannya ‘mati’,” tuturnya saat menjadi pembicara di festival buku “Patjar Merah” di eks gedung bioskop Kelud, kota Malang, Sabtu (27/7).

Tapi lebih dari itu. Dikatakannya, kalau tulisan jurnalistik itu seharusnya bisa membuat tulisan serasa ‘hidup’ layaknya karya sastra atau yang ia sebut sebagai “Jurnalistik Sastrawi”.

“Seharusnya bisa membawa pembaca serasa berada di peristiwa itu,” tuturnya.

Selanjutnya, ia mengatakan kepada pengunjung yang hadir, kalau ingin menulis karya jurnalistik, mereka mustinya menambahi bumbu-bumbu berupa konteks kejadian dengan diksi yang bisa menghambarkan dengan jelas peristiwa tersebut.

“Pilih diksi dan tambahkan konteks. Seperti “Tiga belas prajurit tergeletak tak berdaya. Darahnya tersapu air ombak yang membawa bau mesiu,” ujar Seno di hadapan para pengunjung.

Untuk itu, Seno menyarankan, kepada para pengunjung jika ingin menulis karya jurnalistik tak seharusnya meninggalkan rasa sastranya.

“Karena jurnalistik dan sastra itu tak terpisahkan.Jadi wartawan ya sebenarnya jadi sastrawan,” tutur ia.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Bob Bimantara Leander