Guru ”Makan” Tiga Murid. Kok Tega?

MALANG KOTA – Perbuatan asusila yang dilakukan Mustaram, 33, dan Sofi, 35, mencoreng dunia pendidikan berbasis agama. Sebagai guru, Mustaram bukannya memberikan contoh yang baik. Justru dia tega (maaf) menyodomi ketiga muridnya.

Akibatnya, Sabtu malam (5/5), Mustaram, selaku guru, dan Sofi yang kesehariannya menjadi tukang kebun di lembaga pendidikan yang berada di Kecamatan Sukun itu digelandang ke Satreskrim Polres Malang Kota (Makota). Kini mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, kejadian ini berawal ketika AB, 8, salah satu murid, mengeluhkan sakit (maaf) di duburnya ketika buang air besar (BAB). Karena tidak kuat menahan sakit, AB menyampaikan keluhannya kepada orang tuanya.

Mulanya dia tidak mau ngaku saat ditanya kedua orang tuanya. Tapi setelah didesak, akhirnya AB mengaku pernah diperlakukan tidak senonoh oleh gurunya.

”Kedua orang tua AB langsung melapor ke Polsek Sukun,” ujar sumber di internal ponpes yang enggan disebutkan namanya itu.



Setelah diperiksa di Polsek Sukun, ternyata tidak hanya AB yang menjadi korban Mustaram dan Sofi. Tapi, juga dua santri lainnya. Mereka adalah MA, 9, dan TA, 8, teman sekelas AB.

Sementara itu, Kapolsek Sukun Kompol Anang Tri Hananta membenarkan pihaknya telah mengamankan kedua tersangka. Namun, dia langsung menyerahkan kasus ini ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Makota.

”Laporannya malam hari, dan kami langsung serahkan ke PPA, Mas,” ungkap Anang.

Terpisah, Kasatreskrim AKP Ambuka Yudha menjelaskan, kedua orang itu sudah dalam tahap penyidikan. Kedua tersangka diserahkan petugas Polsek Sukun kepada UPPA untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

”Mereka masih kami proses, sudah penyidikan,” terang Ambuka.

Apa motif kedua tersangka? Ambuka masih belum bisa membeberkan itu. Ambuka merencanakan jika kasus ini akan segera dirilis dalam waktu dekat. ”Tunggu saja perkembangan besok (hari ini) ya,” pungkasnya kemarin.

Di lain pihak, Mujahidin Ahmad, pengurus lembaga dari dua tersangka, tidak bisa dikonfirmasi terkait tindakan tercela salah satu pengajar itu. Ketika didatangi koran ini, rumahnya terlihat tertutup. Begitu pula dengan kondisi lembaga pendidikan yang sangat sepi. Bahkan, tidak terlihat satu pun orang yang beraktivitas di lingkungan itu.

Sementara itu, pakar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang (UM) Dr Muslihati menyatakan, korban sodomi akan mengalami trauma berat. Jadi, mereka perlu dorongan motivasi dari keluarga dan lingkungan sekitar untuk tidak mengucilkan korban.

”Pemulihan cepat akan membantu mengantisipasi kemungkinan korban akan menjadi pelaku di kemudian hari,” kata doktoral sandwich program Ohio State University USA itu.

Pewarta: Rino Hayyu
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati