Goresan yang Bisa Mengajak Bangkit dari Duka

MALANG KOTA – Seniman selayaknya merespons segala peristiwa yang ada di sekitarnya. Begitulah ungkapan Soegiono, salah satu perupa yang berpartisipasi dalam Pameran Lukisan Terang Bagimu Kawan, yang dihelat mulai Minggu lalu (7/10) hingga Minggu mendatang (14/10).

Acara yang diadakan komunitas seniman Kristiani ”Warta 12” ini melibatkan sebanyak 16 seniman dengan 33 karya terbaiknya. Karya-karya tersebut berisi pesan ajakan untuk bangkit dari duka-duka dan membawa kedamaian. Sesuai dengan misi sebagai seorang seniman yang menyebarkan ajaran agama melalui karya, mayoritas hasil karya dalam pameran ini memuat nilai-nilai mulia kajian keagamaan.

Tidak hanya memuat tentang karya-karya dengan nilai ketuhanan saja, dalam pameran ini juga menampilkan beberapa karya dengan nilai humanis tinggi. Terbukti, salah satunya karya milik Soegiono yang menyikapi kejadian gempa di Palu, Sulawesi Tengah, yang terjadi belakangan ini.

Pria berusia 63 tahun yang akrab disapa Tengkek ini menceritakan salah satu hasil karyanya yang berjudul ”Hati Seorang Ibu” yang merupakan karya lamanya sejak 2010 dan dikombinasikan dengan responsnya mengenai sosok korban, Antonius Agung Gunawan, petugas Air Traffic Control Batik Air, yang meninggal dunia lantaran menyelamatkan penerbangan pesawat ke Makassar.

”Awal inspirasinya usai melihat dua lukisan Maria menggendong Yesus. Saya membuat ini dari merespons kejadian Palestina 8 tahun yang lalu. Sekarang saya menambahkan kertas kecil kutipan berita dari media sebagai penghormatan saya kepada Antonius,” ungkapnya.



Dalam acara pembukaan yang diadakan Minggu lalu (7/10), ratusan penonton yang hadir disambut dengan spontanitas pembacaan puisi dan permainan alat musik khas Kalimantan ”Sampe” yang dimainkan oleh Azis Suprianto. Sekaligus membawakan lagu ciptaannya Donggala. Seniman yang akrab disapa Kak Azis Franklin ini bercerita jika lagu Donggala tersebut tercipta saat dia sedang menjadi relawan di Lombok. ”Sepuluh hari di Lombok, mendengar ada kabar gempa yang ada di Palu dan Donggala. Seketika langsung dapat inspirasi untuk membuat karya musik,” tutur seniman asal Lawang tersebut.

Acara pembukaan tersebut tidak hanya sebagai pementasan kesenian saja, tetapi sekaligus dijadikan aksi penggalangan dana untuk korban bencana di Palu dan Donggala.  ”Sudah terkumpul kira-kira Rp 1 juta dan beberapa pakaian layak pakai dan kemungkinan akan dikirimkan hari ini ke Sigi, Sulawesi,” tambahnya.

Adhisa Qotrunnada Mumtadz, siswa SMAN 1 Malang, mengaku senang ketika mengunjungi pameran lukisan yang menempati dua ruangan tersebut. Menurut dia, kegiatan ini cukup bermanfaat untuk dia dan ketiga temannya yang datang kemarin (8/10). ”Sebelumnya, saya tidak tahu tentang kesenian dan fenomena bencana Palu kemarin. Melalui pameran ini, saya jadi tahu fenomena melalui seni lukis ini. Selain itu, kita juga dapat mengapresiasi karya-karya seni yang ada,” pungkasnya.

Pewarta: Naomi Victoria
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Mardi Sampurno
Foto: Naomi Victoria