Golput di Kota Malang Terancam Melonjak karena Pemilih Kecewa

Pilwali Akut karena Golput

MALANG KOTA – Pilwali 2018 terancam ”rusak”. Sebab, angka golput (pemilih yang tidak mencoblos) diperkirakan melonjak drastis. Bahkan, bisa jadi persentase golput bakal mengungguli persentase perolehan suara ketiga pasangan calon (paslon). Apa indikasi sekaligus penyebab melonjaknya jumlah golput?

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, tim sukses (timses) beberapa paslon meresahkan pendukungnya golput. Indikasi itu terlihat dari gerakan timses. Misalnya, pasangan Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi (Menawan) membuat poster yang berisi pesan agar masyarakat tidak golput. Poster tersebut bertuliskan ”Gak odis golput ben Menawan” (tidak jadi golput agar Menawan).

Sementara pasangan Moch. Anton-Syamsul Mahmud (Asik) terang-terangan meminta konstituennya tetap menggunakan hak suaranya. Ajakan menggunakan hak suara itu disampaikan calon wakil wali kota (cawawali) Syamsul Mahmud ketika menggelar silaturahmi dan halalbihalal di rumahnya, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Selasa lalu (19/6).

”Jangan sampai golput,” kata Syamsul dalam sambutannya di hadapan ratusan konstituennya.


Lantas apa penyebabnya? Mengacu hasil survei Prodi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) yang dilaksanakan April lalu, ancaman meningkatnya golput karena pendukung tidak loyal cukup besar. Dari 400 responden yang disurvei, 34,8 persen pendukung Menawan tidak loyal. Sedangkan jumlah pendukung tidak loyal untuk pasangan Asik mencapai 36,5 persen dan pendukung tidak loyal pasangan Sae sekitar 31 persen.

Pendukung tidak loyal inilah yang terancam beralih ke paslon lain. Mereka rentan mengalihkan dukungan jika kecewa terhadap paslon yang didukungnya. Tapi, jika ada paslon yang membuatnya kecewa, bisa jadi akan memilih golput.

Dosen Ilmu Politik FISIP UB Wawan Sobari SIP MA PhD menyatakan, pihaknya menemukan sinyal-sinyal bakal melonjaknya jumlah golput di Pilwali 2018.

”Ketika saya berbicara dengan masyarakat bawah, banyak yang kecewa (dengan calonnya). Kalau begini (calon terjerat kasus dugaan korupsi), buat apa pilwali,” kata Wawan.

Pria berusia 44 tahun itu menduga, kekecewaan masyarakat muncul karena dua cawali (Moch. Anton dan Ya’qud Ananda Gudban) yang kini ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tersangkut kasus dugaan suap pembahasan APBD-P 2015.

”Masyarakat kecewa, itu pasti,” kata alumnus Universitas Padjadjaran (Unpad) itu.

Wawan menilai wajar jika ada timses yang resah karena pendukungnya golput. Dia tidak bisa memprediksi berapa persen angka golput pada Pilwali 2018. Namun, jika jumlah golput meningkat, Wawan menyatakan, itu akan merugikan pasangan Menawan dan Asik.

”Jika aksi golput benar terjadi, maka akan menguntungkan paslon lain. Yaitu, Sae,” kata pria kelahiran Bandung, 1 Agustus 1974, itu.

Wawan menyarankan agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang cepat menyikapi isu bakal melonjaknya angka golput. Minimal harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa golput tidak akan menyelesaikan masalah.

”Karena suara warga sangat menentukan masa depan kota ini dalam lima tahun ke depan,” terang dia.

Terpisah, Divisi Hukum KPU Kota Batu Fajar Santoso memaparkan jika ada yang menggerakkan masyarakat untuk golput, maka bisa masuk ranah pidana. Sebab, mengajak orang tidak menggunakan hak pilihnya.

”Kalau info itu benar, bisa kena pidana (yang menggerakkan),” ungkap sarjana hukum ini.

Lebih lanjut pihaknya juga mengimbau masyarakat agar tetap menggunakan hak pilihnya saat coblosan pilwali pada 27 Juni. Sebab, suara mereka akan menentukan nasib paslon dukungannya.

”Pemilihan ini yang akan menentukan Kota Malang lima tahun ke depan,” tandasnya.

Menanggapi hal ini, juru bicara Menawan Dito Arief, membantah pendukungnya mewacanakan golput dalam Pilwali 2018. Dia menegaskan, timnya selalu koordinasi untuk mengamankan dukungan suara di masyarakat.

”Timses akan terus mengamankan dukungan,” tandas pria yang juga menjadi sekretaris DPC PAN Kota Malang ini.

Untuk meyakinkan warga, masih kata dia, pihaknya juga siap turun ke lapangan. Yaitu, mulai timses, unsur parpol pendukung dan pengusung, relawan dan komunitas akan all-out mendukung Menawan di pilwali.

Bahkan, jumlah tim gabungan yang bakal turun berkisar 2.000–3.000 orang. ”Ribuan tim gabungan kami siap turun ke lapangan menyukseskan pilwali,” ungkap dia.

Lebih lanjut, pihaknya menduga bahwa isu tersebut diciptakan oknum agar dukungan kepada Menawan runtuh. Jadi, paslon lain bisa di atas angin. ”Bisa saja begitu (isu itu untuk ’gembosi’ suara Menawan, Red),” terang politikus PAN ini.

Pihaknya mengimbau semua simpatisan dan pendukung Menawan agar tetap kompak. Jadi, pada 27 Juni mendatang, Menawan bisa memenangkan pilwali. ”Harus tetap kompak. Jangan sampai terpengaruh pada isu negatif,” tandasnya.

Senada dengan Dito, ketua timses Asik, Arief Wahyudi, juga menampik banyaknya pendukung Asik yang golput. Dia menyatakan, berdasarkan survei internal, ada penurunan grafik angka golput loyalis Asik. Jika beberapa periode sebelumnya angka golput loyalis Asik ditaksir mencapai 48 persen, survei masa Lebaran menurun 18 persen menjadi 30 persen saja.

”Tingginya prediksi golput loyalis Asik tak lain karena isu miring (Anton diisukan mengundurkan diri dari pencalonan di Pilwali 2018). Kini loyalis sudah sadar kalau Abah Anton tidak akan mundur dari pilwali,” tegasnya.

Mantan wakil ketua DPRD Kota Malang itu menambahkan, pihaknya sudah mulai percaya diri dengan kembalinya suara Asik. Menurut dia, hal itu tak lepas dari kinerja tim sukses saat kampanye.

”Tim sukses sudah turun dan menepiskan isu miring yang selama ini berkembang untuk menyasar pemilih Asik,” katanya.

Di lain pihak, juru bicara Sae, Zaini Nasiruddin, menyayangkan jika masyarakat banyak yang golput. Menurut dia, potensi golput pasti ada. Namun, dia menegaskan, pemerintah baru akan tetap berjalan.

”Maka secara etika demokrasi, masyarakat harus bertanggung jawab dengan golputnya. Untuk itu daripada golput, datanglah ke TPS dan memilih,” terangnya.

Pewarta: Imam Nasrodin & Fajrus Shiddiq
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati