Golkar Bela Jokowi, Maksudnya Bukan Beternak

Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin

Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin mengatakan, seharusnya para politisi dapat berpolitik dengan cara yang lebih santun dan beretika. Cara demikian artinya berpolitik secara santun dan lebih dewasa. Apalagi Indonesia sudah memasuki 73 tahun merdeka.

Sejatinya para politisi tidak berpolitik dengan cara hukum rimba alias tidak ada aturannya. “Itu yang harus kita kedepankan. Politik yang beretika,” kata Mahyudin di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (4/5).

Potongan pidato Jokowi soal kalajengking
(Youtube)

Mahyudin yang merupakan bagian dari elite Partai Golkar pun memersoalkan setiap orang yang kerap mencari celah dari Jokowi. Menurutnya jiwa berpolitik secara dewasa, maka semangatnya mencari kebersamaan dalam membangun bangsa.

“Sekarang orang kan mendengar pidato Pak Jokowi yang dicarinya perbedaannya terus. Bukan persamaannya. Jadi bukan semangat kebersamaan yang dibangun, tapi semangat perbedaannya,” tuturnya.



Di sisi lain, Mahyudin melihat pidato Jokowi itu sebetulnya menyampaikan semangat untuk menciptakan lapangan usaha bagi masyarakat luas. Tidak ada maksud Jokowi membuat seluruh masyarakat Indonesia harus berternak kalajengking.

“Beliau menyatakan ada peluang usaha yang layak untuk dikerjakan oleh WNI. Saya kira itu maksudnya. Bukan berarti semua orang disuruh beternak kalajengking,” ucapnya.

Makanya dia tidak heran jika banyak orang berupaya mendeskreditkan Jokowi. Semua itu demi kepentingan menghadapi Pilpres 2019. Para lawan politik melakukan kampanye hitam dengan melancarkan beragam kritikan yang tidak cerdas dan tidak dewasa. “Pidato Pak Jokowi diplesetkan. Tujuannya mencari-cari kelemahannya,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya sebuah video pidato Jokowi beredar di media sosial (medsos). Ketika itu Jokowi menghadiri acara Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (30/4) lalu.

Dalam pidato itu, Jokowi menyebut komoditas yang paling mahal di dunia adalah racun kalajengking. Saking begitu mahalnya, racun kalajengking bisa dihargai senilai USD 10,5 juta per liter. Uang itu setara dengan Rp 142,8 miliar (kurs 13.600).


(aim/JPC)