Genjot Usaha Warga, Siapkan Rp 94 Juta

KOTA BATU Pemkot Batu terus mendorong kelompok usaha bersama (kube) untuk tidak bergantung pada subsidi pemerintah alias mandiri. Tahun ini, pemkot menargetkan semua kube sudah mandiri.

Untuk diketahui sebelumnya, saat ini ada 28 kube di Kota Batu. Rinciannya, sebanyak 18 kube belum mandiri dan 10 kube lainnya sudah mandiri pada tahun 2018 lalu.

Praktis, masih ada 18 kube yang belum mandiri tahun ini. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batu Ririck Mashuri menyampaikan bila pihaknya sudah menyiapkan dana Rp 94,8 juta untuk subsidi 18 kube tersebut.

Dana itu bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun ini. ”Semuanya sudah mengajukan proposal ke kami dan sudah kami cairkan,” kata Ririck Mashuri saat ditemui di kantornya.

Menurut dia, bantuan atau subsidi tersebut tidak bisa berupa uang. Melainkan harus berupa sarana dan prasarana (sarpras) penunjang usaha. Seperti mesin cuci, mesin perajang keripik kompor gas, blender, dan peralatan produksi lainnya. ”Nggak bisa berupa uang, harus berbentuk sarpras produksi,” ungkapnya.

Dia menambahkan, salah satu tujuan program kube tersebut yakni untuk mengentaskan kemiskinan. Sehingga program ini bisa dimanfaatkan warga dalam mengembangkan usaha.

”Mereka bisa dapat pemasukan yang lebih baik tiap harinya,” imbuh dia. Lebih lanjut, sebagian besar usaha warga itu yakni di bidang kuliner. Seperti makanan ringan dan kopi serta olahan lainnya.

”Bidang usahanya kami sesuaikan dengan keinginan penerimanya,” terangnya.  Tak hanya itu, masih kata dia, pihaknya juga tidak melepas begitu saja saat sudah diberikan bantuan sarpras.

Namun, pihaknya juga memberikan pendampingan dan pelatihan untuk 18 kube tersebut. ”Jadi, nggak ditinggal begitu saja (usai diberi bantuan). Kami kasih pelatihan sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar dia.

Dia juga menyatakan bila pihaknya turut menyediakan modal usaha bagi mereka yang membutuhkan modal tambahan.

Yaitu melalui program Bantuan Langsung Pemberdayaan Sosial (BLPS) untuk mengelola usaha ekonomi produktif (UEP). ”Tinggal mengajukan dan tim kami yang akan melakukan uji kelayakan,” imbuhnya.

Ririck lantas mencontohkan kube yang sudah sukses menjalankan usahanya. Misalnya usaha laundry di Desa Giripurno dan usaha bawang merah di Desa Torongrejo. ”Alhamdulillah, sekarang (kemarin) sudah bisa mandiri dan sukses,” ujar dia. Dia berharap kesuksesan itu bisa merembet pada usaha warga di tempat lain.

Pewarta : M.Badar Risqullah
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Imam Nasrodin