Genjot Ekspor Kopi, Bersiap Gandeng NGO

KEPANJEN – Meski punya potensi yang bagus, komoditas pertanian kopi dari Kabupaten Malang masih sulit berbicara banyak. Petani kerap kesulitan untuk memenuhi jumlah permintaan pasar. Sistem pemasaran juga masih belum optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang bersiap menerapkan strategi baru.

”Kami ada rencana untuk menggandeng non government organization (NGO) dari luar negeri untuk memberi masukan kepada kami, terutama tentang manajemen pengolahan dan pemasarannya,” kata Kepala DTPHP Kabupaten Malang Budiar Anwar. Dengan menggandeng pihak asing, dia berharap angka ekspor kopi bisa meningkat.

Untuk diketahui, tahun lalu DTPHP mencatat jumlah ekspor kopi sebanyak 1,2 ton. Angka itu masih jauh dari kata cukup jika dibandingkan dengan permintaan kopi dari beberapa negara seperti Italia, Belgia, Jepang, dan Taiwan. Agar produksi bisa ditingkatkan, mantan Kasubag Humas Pemkab Malang itu berharap para petani kopi bisa lebih termotivasi lagi.

Secara keseluruhan, DTPHP mencatat saat ini ada 3.500 hektare lahan di Kabupaten Malang yang ditanami komoditas kopi. Dari total itu, 90 persen di antaranya merupakan tanaman kopi robusta. Sementara sisanya baru kopi arabica. Untuk pengelompokkan kawasan lahan tanam kopi, DTPHP membaginya menjadi tiga titik.

Yakni, kawasan Arjuno yang melingkupi Kecamatan Lawang, Singosari, dan Karangploso. Kedua wilayah kawasan Gunung Kawi yang melingkupi Kecamatan Wonosari, Kromengan, Sumberpucung,  Ngajum, dan kawasan Semeru yang melingkupi daerah lereng seperti  Kecamatan Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit.

Pewarta               : Farik Fajarwati
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Bayu Mulya