Gembleng Ilmu Kanuragan, Ikuti Ritual Zikir Ratusan Ribu Kali

Masjid yang berada di area Ponpes An Nur Al Muqrinin, Buring, terlihat megah. Di sinilah para santri mendapat gemblengan dari KH M. Yasin Hasyim.

Di Ponpes An Nur Al Muqrinin, Buring, Kedungkandang, Kota Malang, selain dikenal sebagai tempat kajian kitab kuning, juga tempat memperdalam ilmu tenaga dalam (kanuragan). Ritualnya cukup berat. Selain harus mengikuti program berendam setiap Jumat Legi pukul 02.00, juga ada zikir khusus.

Sebelum resmi mendirikan Ponpes An Nur Al Muqrinin pada 1987 silam, rumah KH Mohammad Yasin Hasyim sudah menjadi tempat nyantri. Hanya saat itu belum ada santri yang menetap. Setelah menimba ilmu dari kiai yang suka humor ini, santri pulang ke rumah masing-masing. Itu berlangsung sejak 1983. Jumlahnya pun masih sedikit sekali. Tak lebih dari 10 santri.

”Dulu, yang datang sendiri-sendiri tidak dijadikan satu seperti sekarang dan hanya dilakukan setiap Jumat Legi,” beber KH Mohammad Yasin Hasyim saat ditemui usai mengajar mengaji pada Selasa lalu (6/6).

Kiai Mad–panggilan akrabnya– masih ingat betul santri dadakan yang berdatangan ke pesantrennya cukup banyak pada saat ramai-ramai isu ninja pada 1998. Saat itu, setiap malam, pesantrennya dipenuhi jamaah. Jumlahnya pun hingga 6 ribu orang. Isu ninja yang dimaksud adalah ketika ada pembantaian terhadap sejumlah orang yang diduga sebagai dukun santet di Banyuwangi.

Pelaku pembantaian adalah warga sipil dan orang misterius yang kabarnya memakai baju ala ninja. Isu ini meluas hingga membuat Malang Raya pun ikut mencekam. Kemudian, banyak warga di Malang yang mencari kekebalan tubuh atau ilmu tenaga dalam. Mereka akhirnya nyantri ke Ponpes An Nur Al Muqrinin. ”Benar-benar ramai, dalam semalam ada 6 ribu orang,” ungkapnya.



Ilmu kanuragan yang didapat oleh para santri saat itu melalui riyadhoh (gemblengan batin dan spiritual). Dan ilmu kanuragan tersebut sifatnya tidak permanen. Sebab, jika santri yang sudah diberi ilmu kanuragan itu berbuat tercela maupun melanggar larangan Allah, dengan sendirinya ilmu tersebut luntur.

”Tapi, ada juga yang sengaja kami cabut karena dianggap tidak pantas setelah menerimanya,” ungkap Kiai Mad.

Untuk bisa mengembalikan ilmu tersebut, maka santri itu harus melakukan zikir fida atau zikir tebusan. Jenisnya bisa fida sughro atau tebusan kecil maupun fida kubro atau tebusan besar. Untuk fida sugro, zikirnya berjumlah seribu kali pada sejumlah bacaan. Di antaranya pembacaan istighfar, tahlil, salawat, dan basmallah. Dan masing-masing dibaca seribu kali.

Sedangkan untuk fida kubro, jumlah bacaannya cukup banyak. Untuk pembacaan istighfar sebanyak 350 ribu kali. Kemudian pembacaan tahlil sebanyak 70 ribu kali, salawat 100 ribu kali, dan basmallah 222.222 kali.

”Dengan pembacaan rutin usai salat lima waktu sejumlah 2 ribuan bacaan, butuh waktu 41 hari. Tapi, kalau ingin merampungkannya sekaligus tanpa istirahat, butuh waktu dua hari,” terang kiai asal Madura ini.

Selain menghasilkan santri-santri yang jago tenaga dalam, lulusannya juga jago dalam penguasaan kitab kuning. Sebut saja kitab Ihya Ulumuddin yang membahas tentang tasawuf dan kehidupan sehari-hari.

Kemudian, kitab Fathkul Wahab yang membahas tentang ilmu fikih atau soal hukum Islam dan kitab Ubudiyah atau tentang peribadatan. Kemudian kitab kuning Riyadus Sholihin atau kitab yang membahas tentang kehidupan bermasyarakat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Meski masa pendidikannya tidak lama, hanya 3 tahun, tapi para santrinya cukup mahir dalam menguasai kitab-kitab kuning. Bahkan, Kiai Mad menyebut, hanya dalam kurun waktu 6–12 bulan, santri-santrinya diperkirakan sudah bisa menguasai kitab kuning.

”Penguasaan terhadap kitab kuning begitu cepat, kurang dari setahun sudah menguasai kitab seperti Ihya Ulumuddin,” jelasnya.

Cepatnya penguasaan kitab kuning itu ditempuh dengan metode amsilati. Yakni guru membaca kitab, kemudian murid mengikutinya. ”Selain itu, juga mempelajari ringkasan dan mengambil yang penting-penting,” bebernya.

Metode tersebut ditempuh dengan menguasai ilmu nahwu dan shorof atau tata bahasa Arab agar bisa membaca kitab kuning. ”Jadi, menguasai nahsu shorof melalui amsilati untuk membaca dan memahami kitab kuning,” bebernya.

Kepiawaian santri itu pun teruji. Dalam setiap wisuda, para santri akan diuji di depan publik. Para tamu yang hadir dipersilakan menguji para santri. Sejumlah kitab kuning telah disiapkan untuk dipilih penguji. Kemudian, tamu itu diminta mengambil salah satu kitab kuning dan membukanya, lalu ditanyakan kepada santri.

”Kami persilakan mengambil kitab kuning apa saja, lalu ditanyakan. Dan alhamdulillah anak-anak bisa menjelaskannya,” ungkap dia.

Pewarta: Ahmad Yahya
Penyunting: Ahmad Yahya
Foto: Doli Siregar