Gelaran Festival F8 di Makassar Digelar, Transaksi Tembus Rp 21 Miliar

Makassar International Eight Festival & Forum 2018 (Festival F8) menjadi event terbesar yang pernah digelar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Festival digelar selama lima hari, antara 10–14 Oktober, itu  memadukan delapan macam event di satu lokasi. Apa yang bisa diadopsi untuk Malang Raya? Berikut laporan Radar Malang yang hadir ke event tersebut.

Festival F8 memanfaatkan venue terbuka di sepanjang pesisir Pantai Losari. Membentang sepanjang 1,7 kilometer.

F8 sebenarnya merupakan singkatan dari fashion, film, food and fruit, flora and fauna, folk, fine art, fusion music, serta fiction writers and fonts.

Jadi, di sepanjang Pantai Losari, pengunjung bisa menemukan delapan macam hal itu. Terbagi dalam empat zona.



Di tiap zona itu, ada gerbangnya. Jadi, pengunjung mesti masuk, juga keluar melalui pintu gerbang tersebut. Pengunjung tidak perlu membayar tiket untuk bisa masuk ke areal Festival F8.

Tapi, pengunjung harus melalui pemeriksaan. Di setiap gerbang itu, ada belasan, bahkan lebih dari 20 petugas yang berjaga. Terutama di jam-jam padat pengunjung. Petugas berasal dari unsur polisi dan satpol PP. Petugas mesti memastikan bahwa pengunjung tak membawa barang-barang berbahaya.

Setelah lolos pemeriksaan, pengunjung bisa menikmati suguhan di arena Festival F8. Mulai dari Zona 1, Zona 2, Zona 3, dan Zona 4.

Zona 1 berisi stan-stan food and fruit. Lokasinya menghadap Masjid Amirul Mukminin yang ”mengapung” di atas air.

Di zona ini, berderet stan-stan makanan dan minuman. Setiap stan memiliki luas sekitar 2×2 meter. Ada stan yang diisi divisi food and beverage hotel-hotel berbintang di Makassar. Tapi, banyak pula stan yang diisi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Nah, di depan deretan stan itu berjajar pula meja-meja plus kursi. Jadi, sambil menikmati sajian kuliner, pengunjung bisa melihat pemandangan Teluk Losari.

Ketika malam tiba, lampion-lampion yang tergantung di atas deretan stan dan meja kursi, membuat suasana menjadi romantis.

Kemudian di Zona 2, suguhan utamanya adalah main stage. Atau panggung besar, di mana tiap malam ada musisi ternama nasional yang tampil. Mulai dari Idang Rasjidi, Virzha, Ada Band, hingga Padi.

Di zona ini juga masih bisa ditemukan stan-stan makanan, produk UMKM, properti, hingga otomotif. Dinas kesehatan setempat juga menempatkan mobil medical check up-nya di sana.

Lalu, Zona 3 terdiri atas flora and fauna, fine art, food and fruit, dan fusion music. Yang paling menarik tentu flora and fauna.

Untuk fauna, ada konsep menarik yang ada di arena Festival F8. Yakni, floating zoo. Sesuai namanya, kebun binatang ini terapung. Yakni, dibangun di atas ponton atau kapal tongkang berukuran luas sekitar 16 x 53 meter yang bersandar di dermaga Pantai Losari.

Di sana, pengunjung bisa melihat berbagai macam hewan. Mulai dari kura-kura, ular sanca, musang, kelinci, kucing, hingga iguana.

Floating zoo buka mulai pukul 17.00–22.00 waktu Indonesia Tengah (WITA). Setiap harinya, floating zoo selalu ramai. Bahkan, pengunjung harus rela antre untuk bisa masuk ke areal ini.

Kurator flora and fauna F8, Rama menyatakan bahwa sedikitnya ada 5.000 orang yang mengunjungi floating zoo setiap harinya. Ada alasan mengapa zona ini cukup diminati. ”Makassar belum punya kebun binatang. Jadi, kami menawarkan edukasi lewat ini,” kata dia.

Hanya beberapa puluh meter dari floating zoo, ada floating garden. Konsepnya sama. Yakni, semacam galeri yang menampilkan berbagai jenis tanaman di atas kapal tongkang.

Adapun zona terakhir adalah Zona 4 yang diisi film, fiction writers and fonts, folks, food and fruit, dan fusion music. Untuk film misalnya, ada panggung khusus, lengkap dengan layar raksasa untuk memutar berbagai film.

Lalu, untuk folks, ada sebuah panggung khusus yang menampilkan berbagai jenis kesenian tradisional. Seperti yang terlihat Jumat sore (12/10), atau hari kedua gelaran Festival F8. Penampilan atraktif kelompok seni Res Art membawakan tari Toraja mampu memukau pengunjung yang hadir.

Satu lagi, arena Festival F8 juga menyuguhkan atraksi pe-jetski profesional yang ambil bagian dalam Tournament International Jetski Wali Kota Cup 2018. Pesertanya berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga Brunei Darussalam.

Dengan berbagai suguhan itu, di setiap zonanya, Festival F8 tak pernah sepi pengunjung. Paling sedikit, ada 300 ribuan pengunjung yang datang setiap hari. Bahkan, panitia mencatat, total, ada lebih dari 2 juta pengunjung yang hadir selama lima hari penyelenggaraan Festival F8.

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto pada penutupan Minggu (14/10) menyebut bahwa capaian Festival F8 melebihi ekspektasi Pemerintah Kota Makassar. ”Target kami, Festival F8 dikunjungi 1,5 juta orang. Tapi dari laporan, ada lebih dari 2 juta pengunjung. Sementara nilai transaksinya lebih dari Rp 21 miliar,” ujar dia.

Tapi, tak ada event yang sempurna. Di balik kemegahan Festival F8 juga masih ada sejumlah kekurangan yang harus bisa dibenahi di masa mendatang. Juga bisa menjadi masukan bagi pemerintah daerah lain yang ingin menggelar event serupa.

Masalah itu adalah terkait parkir. Dengan jumlah pengunjung yang segitu banyaknya, tidak sebanding dengan ketersediaan lahan parkir.

Praktis, kendaraan bermotor mesti parkir di badan jalan. Jadi, Jl Somba Opu di pesisir Pantai Losari yang hanya terdiri atas dua lajur searah itu harus ”termakan” satu lajur di antaranya oleh parkir kendaraan.

Jalan-jalan lain, termasuk gang-gang sempit, di radius 1 kilometer dari pantai juga tak luput jadi areal parkir. Praktis, kemacetan parah pun terjadi. Terutama di atas pukul 17.00 WITA.

Ini tak hanya menyulitkan pengunjung yang akan masuk ke areal Festival F8. Tapi, juga yang ingin keluar. Ramlah, salah seorang pengunjung, misalnya. Perempuan paro baya itu harus berjalan sekitar 1 kilometer ke lokasi yang traffic-nya tidak begitu padat, untuk penjemputan taksi online. ”Saya tidak menyangka kalau ternyata seramai ini,” kata Ramlah, Sabtu lalu (13/10).

Hal senada juga disampaikan Hady Sutrisno, salah satu warga Makassar lainnya. ”Beberapa hari ini, jalan-jalan di Makassar memang macet parah. Bukan hanya karena adanya Festival F8. Tapi, juga ada kebijakan baru pemerintah yang mengubah arah rute jalur kendaraan. Ada yang awalnya dari barat ke timur, jadi sebaliknya, timur ke barat. Banyak pengendara yang masih bingung,” pungkas dia. (*/c2)