Gaya Santai Ganjar Semakin Dicintai Warga Sinergi Jawa Pos

Rangkaian kata-kata bermakna positif tersebut boleh jadi memang mencerminkan sikap hidup mayoritas warga Jateng. Namun, kalau melihat gaya Ganjar dalam memimpin Jateng, citra gayeng juga terasa pas dilekatkan pada mantan anggota DPR RI ini.

Dalam acara-acara tidak resmi misalnya, Ganjar lebih suka pakai kaus oblong. Pada kegiatan kunjungan ke daerah, ia juga selalu menggunakan sepatu kets hitam yang menunjang mobilitasnya lebih fleksibel.

Beberapa programnya juga mengindikasikan pola komunikasi yang tidak berjarak dengan rakyat. Salah satunya gopi Bareng Ganjar yang biasanya diformat duduk lesehan. Acara ini biasanya disegelar di lokasi-lokasi outdoor. Seperti angkringan, halaman balai desa, alun-alun, dan sebagainya. Audience bisa ngomong apa saja, tidak ada moderator, tidak ada aturan protokoler. Mereka bebas protes, menyanggah, atau bahkan mengumpat sekalipun.

Ganjar mengatakan, ngopi bareng adalah sarana berinteraksi dengan masyarakat secara terbuka. Dengan diplomasi gayeng tersebut, Ia berharap warga menyampaikan masalahnya untuk kemudian dicarikan solusi bersama-sama. 



“Melalui kegiatan seperti ini keluhan atau pertanyaan warga bisa terselesaikan. Mungkin dia tidak mengerti kemudian ngerti, tetapi jalannya tidak tahu, kemudian dia juga bisa protes. Kalau kita bisa ngobrol seperti ini akan mengeliminasi persoalan,” katanya, ketika Ngopi Bareng Ganjar di Temanggung beberapa waktu lalu.

Dalam setiap kegiatan, Ganjar tidak sendiri. Ia mengajak juga bupati atau walikota setempat, beberapa pejabat dinas, BUMD, atau bahkan perwakilan lembaga vertical. Tujuannya agar pejabat tersebut bisa ikut membantu menyelesaikan masalah. 

“Ada peternak sapi kekurangan modal, nah saya temukan dengan Bank Jateng. Ada keluhan cantrang saya ajak dari kementerian kelautan datang, masalah pupuk ditangani bareng dinas pertanian,” katanya.

Secara tidak langsung, Ngopi Bareng Ganjar juga sebagai sarana edukasi warga. Masyarakat diajak untuk belajar bagaimana proses penganggaran, membuat usulan kegiatan, dan melaporkan masalah sesuai kewenangan.

“Jalan provinsi lapornya ke saya, jalan kabupaten ke pak bupati, jalan desa ke kepala desa. Jadi agar paham, tidak semua lapor ke gubernur,” jelasnya.

Dengan Ganjar yang juga tampil lepas, warga Jateng pun tidak takut menyampaikan aspirasi baik berupa keluhan maupun masukan. Hal-hal kecil dari Ganjar rupanya memantik efek  yang besar bagi rakyat. Misalnya gaya Ganjar memanggil warga dengan sebutan “bro”. Seperti itu saja sudah cukup membuat warga menjadi dekat dengan pemimpinnya. Serasa ngobrol dengan teman sendiri.

“Sebenarnya semua persoalan bisa diselesaikan dan melalui program ini. Bisa saling meledek, guyonan. Saya sendiri minimal merasa seperti mereka. Saya menjadi bagian dari mereka, mereka tidak sungkan kepada saya, bisa marah-marah pada saya. Hal seperti ini justru ngangeni bagi saya,” katanya.

Uniknya, gaya komunikasi blakasutha ini tak hanya digunakan ketika berkomunikasi dengan rakyat, tapi juga dengan pejabat. Selama empat tahun ini, publik disuguhi bagaimana Ganjar pethentengan dengan anggota dewan, pejabat kementerian, bahkan menterinya sekalipun.

Dengan gaya tersebut, Ganjar ingin mengikis gaya priyayi para gubernur sebelumnya. Kalau dulu gubernur atau kepala daerah adalah ndoro, sekarang rakyat lah ndoro-nya Ganjar.

(rs/bay/bay/JPR)