Gas Elpiji Kosong, Pengungsi di Sibetan Terpaksa Gunakan Kayu Bakar Sinergi Jawa Pos

Hal itu diungkapkan I Nengah Sujaya, koordinator setempat saat ditemui di lokasi, Sabtu (9/12). Pria asal Banjar Dinas Untalan, Jungutan tersebut mengeluhkan sudah cukup lama pihaknya tak mendapat pasokan gas elpiji. Pun gas elpiji cukup langka di sekitar lokasi. “Kompor ada, tapi gas tidak ada. Terpaksa kami mengumpulkan kayu bakar. Mencarinya pun cukup jauh,” ungkapnya.

Di samping itu, Sujaya mengeluhkan persediaan sembako yang semakin menipis. Memang, kata dia, pihaknya mendapat bantuan, tapi dalam waktu empat atau lima hari. “Sekita empat atau lima hari sekali baru dikirimkan. Jadi kami harus mengirit,” jelasnya.

Pihaknya pun mengaku agak sulit memohon bantuan ke posko induk di Tanah Ampo, karena harus lewat camat. “Kami sempat coba mengajukan ke posko pusat. Padahal sudah menggunakan kartu pengungsi dan kartu KK, tapi ditolak. Harus ada pengesahan dari camat. Kalau lewat camat harus menunggu cukup lama,” tambahnya.

Dikatakannya, sebagai wujud kebersamaan, pihaknya memberlakukan piket tiap harinya. Ada yang memasak, mencari kayu bakar, dan sebagainya. Di samping menipisnya sembako, pihaknya juga mengatakan masih kekurangan alas tidur. “Sementara kami pakai tikar. Belum lagi ada atap yang bocor. Tapi kami sudah berusaha perbaiki dengan gotong royong,” tambahnya yang mengaku sudah mengungsi sekitar dua bulan lebih. 

(bx/adi/yes/JPR)