Garang di Lintasan, Kalem di Kelas

Nanik Wilujeng Oetomo begitu mencintai olahraga off-road meski nyawa yang jadi taruhannya. Berawal dari jadi navigator suami, kini dia ketagihan jadi pembalap. Aktivitas ini tentu bertolak belakang dengan profesinya yang lain, yakni seorang guru bimbingan konseling yang menuntut Nanik lemah lembut.

Jika melihat Nanik Wilujeng Oetomo mengenakan jilbab dan rok, mungkin tak ada yang menyangka kalau dia adalah seorang pembalap off-road dengan reputasi nasional. Wajahnya kalem, pembawaannya juga ramah. Dengan demikian, dia lebih identik sebagai guru bimbingan konseling di salah satu SMK di Kota Malang.

Ya, sehari-hari Nanik memang beraktivitas menjadi konselor. Tentu, tugasnya adalah menampung keluh kesah siswa. Kendati demikian, profesi sebagai pembalap juga diseriusi oleh Nanik. Dia sudah akrab dengan dunia balapan sejak sekitar 20 tahun lalu.

Bermula dari hobi, Nanik kini menjelma sebagai ratu lintasan speed off-road. Dia begitu lihai menggeber mobil 4×4, meski kadang dia harus bermandi lumpur. ”Pertama kali berkenalan dengan dunia off-road dari suami, dari ikut-ikut saja, terus jadi navigator. Sama suami akhirnya belajar serius,” kata istri Agus Priyo Utomo atau yang dikenal Agus Apache itu.

Akhirnya, pada 2008 dia mulai menjadi offroader dan mengikuti kelas khusus perempuan dalam Kejurda di Dampit, Kabupaten Malang. Di kejuaraan ini dia berhasil menyabet juara 1. Sejak itu, Nanik terus berjaya di berbagai ajang off-road. Aktivitas ini masih jarang diminati kaum hawa karena resikonya yang tinggi.

Mobilnya sendiri pernah terguling dan menabrak pohon. Namun, Nanik menganggap off-road masih sangat aman. ”Meski nyawa yang dipertaruhkan, kalau kita memperhatikan keamanan, ya aman. Walau mobil ringsek, kalau safety bagus, kita selamat,” ujar perempuan yang pada 27 Juli mendatang genap berumur 42 tahun ini.



Beragam prestasi telah dia torehkan. Di antaranya, juara 1 Kartini M2 Cross 2012, runner­-up Kejurnas Offroad 2011, juara 1 Singhasari Sprint Offroad 2010, juara 2 Kejurda Jatim 2004, dan masih banyak lagi. Saking jatuh cintanya dengan off-road, lulusan Universitas Gajayana, Yogyakarta, ini tak ragu untuk aktif berkegiatan dengan berbagai komunitas. Dia juga rajin berlatih saat menjelang kejuaraan. Kawasan sekitar Gunung Panderman, daerah Wajak, Tidar, dan Singosari, merupakan jujukan alumnus SMAN 1 Dampit ini untuk berlatih.

Nanik sudah kenyang merasakan berbagai pengalaman off-road. Mulai dari terguling dan hampir masuk jurang, hingga menabrak pohon dan radiator jebol sudah pernah dia ”nikmati”. Akan tetapi, perempuan kelahiran Malang 27 Juli 1975 ini makin tertantang untuk terus berlatih dan mengikuti kejuaraan. Nanik sendiri pernah mengalami berbagai kendala saat mengendarai mobil jip di lintasan off-road, tapi hal itu tidak membuatnya kapok.

Dia ingin terus eksis di dunia tersebut sampai tua nanti. Dari sisi usia, Nanik tergolong senior bila dibandingkan offroader perempuan lainnya. ”Kebanyakan offroader sekarang usianya belasan tahun. Tapi, sepertinya offroad sudah mendarah daging. Pokoknya, sampai tua tetap offroader,” pungkasnya sembari tersenyum. (lil/c1/riq)