Gara-gara Stereotype, Mendikbud Muhadjir Dikira Pembantu

Di Malang, Mendikbud Sebut Streotype Penyebab Perseteruan antar Suku dan Ras di Indonesia

KOTA MALANG – Stereotype yang kuat terhadap sesuatu dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya perseteruan bernuansa suku dan ras. Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendi.

“Stereotype ini sangat berbahaya. Orang akan langsung menilai orang lain dari persepsi yang dibangun. Dan ini kerap kali menimbulkan masalah dan jauh dari nilai kebhinekaan Indonesia,” ungkapnya saat menghadiri Simposium Nasional Penanaman Pancasila Sebagai Wahana Watak Bangsa, di Malang, Minggu (9/14).

Ia mencontohkan, stereotype yang terjadi isu mahasiswa Papua kemarin. ”Papua kemarin kan terjadi karena persepsi yang timbul negatif maka itu distereotypekan pada semua mahasiswa Papua,” papar mantan rektor Universitas Muhamadiyah Malang tersebut.

Bahkan, ia menambahkan stereotype itu juga sempat terjadi padanya. Dikatakannya, ketika ia ingin berkunjung ke suatu negara, ia dianggap sebagai pembantu.

“Kan Indonesia itu pasti banyak mengirim PRT dan di pesawat saya dikira pembantu. Padahal sekelas menteri dianggap pembantu. Itulah bahayanya stereotype,” imbuhnya.

Maka dari itu, ia menyarankan masyrakat agar selalu mendahulukan komunikasi terlebih dahulu sebelum menarik kesimpulan.

“Supaya apa? Supaya tidak menimbulkan stereotype yang mana timbul dari presepsi negatif,” tuturnnya.

Ia juga menambahkan, saat ini kemendikbud juga memiliki program bernama Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) untuk mengurangi stereotype yang masih banyak terjadi di kalangan pelajar.

“Kita kirim siswa Papua untuk belajar di Jawa supaya mereka saling berkenalan dan terhapuslah stereotype itu,” papar ia menjelaskan program yang berjalan sudah dua tahun itu.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Fia